Malam Pentas

Purnama senyap, dipeluk gelap, biji rintik dari langit, jatuh di padang genting

Mengiris angin hingga berkeping, tebasannya menuai sepoi, nafasnya adalah topan dan badai

Getir

Aku menaiki punggung tidur, terbaring di pelupuk, menutup tirai mata perlahan,

kemasi jejak perjalanan siang, teater mimpi digelar, berhenti sampai fajar

Bunga tidur

Psike

Pijakannya di selasar bumi, namun jiwanya membumbung tinggi, melonjak-lonjak ; tanpa arah

Mereka yang gegap di tengah nir sinarnya batin, menegaskan lara, bak wayang bersila di lonjor pisang

Garis edar tak bisa diubah, Cenangkas yang diasah seribu tahun tak lebih tajam dari goresan takdir

Jangan percaya ramalan cenayang yang bersekutu dengan tangan-tangan setan, manisnya menggerogoti wirama panggung hati

Nomina, 4 April 2020

Genosida

Hari ini aku melihat;

Musisi jalanan, berebut isi perut, jentrang-jentreng di sudut komplek, merengek dengan suara bengek

Pedagang bangkrut, menunggu tamu datang mencari sandang, carut-marut dipaksa pulang

Tukang lektut, menari-nari di tong sampah, bertengkar dengan lalat yang sama resah

Tukang lektut, menari-nari di tong sampah, bertengkar dengan lalat yang sama resah

Buruh linglung, nasibnya di gantung, kepalanya nyaris terpancung, memikirkan keluarganya yang bingung

Manusia berselimut tebal, takut ajal menjemput, menghindari Sakaratul maut

Seorang lelaki yang putus asa, hatinya, di jarah calon mertua, menanti sepenggal doa

Nomina