AGENDA

Al-Ma’arif

Jutaan kepala yang menghadap ke dinding langit, dari sebagiannya menunggu satu kenyataan. Dinding yang tebal, tertutup rhadail-rhadail, hubbul jah, hubbul maal dan hubbus syahawat. Jutaan pasang mata menatap pintu langit, pintu yang terkunci rapat, tak terdapat satupun celah kosong di dalamnya, kuncinya hanya lisan, jinan, dan arkan. Kepala yang dipenuhi tanya, seberapa keras akan didengar oleh telinga, suara yang sepatutnya terdengar oleh tetes qadar dan sama‘. Suara itu yang mengirimkan debu-debu pekat, debu yang menutupi pandangan, menutupi rasa, menutupi langkah-langkah sekawanan Bani Adam.

***

Al-Maarif bersimpuh di tajuk sunyi nan kosong, ruang penuh debu, usang, berhari-hari, bahkan menuju windu. Sungguh di hati itu tak lagi terpatri bagaimana dahsyatnya suara Aamiin menjadi Amiin, Aamiin menjadi Aamin, di sikap itu tak lagi tertunai Salaam menjadi Salim, Salaam, menjadi Salaamatan, di pikiran itu tak lagi dicerna Shaf menjadi Shaufa, Shaf menjadi Suhuufakum.

Nomina, 13 Romadhon 1441 H

PUISI

Berjela

Berjela nasib yang tak berujung, menyelami redup cahaya, siang adalah sang surya, menembus pori, malam adalah bulan dan bintang

Terangnya membasuh punggung petualang, gelapnya mengubur akar-akar keteguhan

Seorang gadis mengintip di balik jendela kamar, menunggu kisah, menyambut kasih, jejaka duduk di depan mihrab, menegur dinding hati yang rapuh

Nomina, 6 Mei 2020