Al-Ma’arif

Jutaan kepala yang menghadap ke dinding langit, dari sebagiannya menunggu satu kenyataan. Dinding yang tebal, tertutup rhadail-rhadail, hubbul jah, hubbul maal dan hubbus syahawat. Jutaan pasang mata menatap pintu langit, pintu yang terkunci rapat, tak terdapat satupun celah kosong di dalamnya, kuncinya hanya lisan, jinan, dan arkan. Kepala yang dipenuhi tanya, seberapa keras akan didengar oleh telinga, suara yang sepatutnya terdengar oleh tetes qadar dan sama‘. Suara itu yang mengirimkan debu-debu pekat, debu yang menutupi pandangan, menutupi rasa, menutupi langkah-langkah sekawanan Bani Adam.

***

Al-Maarif bersimpuh di tajuk sunyi nan kosong, ruang penuh debu, usang, berhari-hari, bahkan menuju windu. Sungguh di hati itu tak lagi terpatri bagaimana dahsyatnya suara Aamiin menjadi Amiin, Aamiin menjadi Aamin, di sikap itu tak lagi tertunai Salaam menjadi Salim, Salaam, menjadi Salaamatan, di pikiran itu tak lagi dicerna Shaf menjadi Shaufa, Shaf menjadi Suhuufakum.

Nomina, 13 Romadhon 1441 H

Penulis: nomina

"Datang dari sebuah peradaban, tercipta karena perjanjian, dan dibina oleh ikatan"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s