IDEA

Hidup adalah Permainan

“Saat ia membuka sebuah pintu perkenalan kepadamu, maka jangan kau sandingkan keberadaan pengenalan itu dengan kurangnya usahamu, karena sesungguhnya ia tidak membukakan pengenalan itu untukmu, kecuali ia semata-mata ingin memperkenalkan dirinya kepadamu”

Ris Qsy

Kehidupan yang Hidup (Wa nusuki Wa Mahyaya) Petunjuk dalam Doa Iftitah

Berada dalam ruang lingkup kehidupan orang-orang yang humoris itu menguntungkan, saya bisa terlepas dari semua kepenatan, saraf yang tegang menjadi kendor, otak yang panas menjadi dingin, mental yang turun menjadi naik, itu juga tergantung faktor internal diri kita sendiri, yang selera humornya rendah jangan coba-coba karena sesungguhnya kehidupan itu terlalu mahal untuk diseriusin. Saya mengatakan ini sebuah “kehidupan” – tidak mengatakan tentang hidup, kehidupan adalah Rububiyah – material dan non material (uang, jabatan, popularitas, syahwat, nafsu, ego, dusta, dan lain sebagainya) sedang hidup (sebatang tubuh) adalah Ubudiyah (Kuring dan kurung) jasmani dan rohani. Paham?

Jauh hari Allah SWT telah mengisyaratkan dalam penggalan ayatnya :

Wamalhayaatuddunya Illaa Mataa’ul ghurur : Kurang lebih maksudnya seperti ini, “Dan kehidupan di dunia ini hanya sekedar permainan (gurauan)”

Apabila kehidupan ini seperti sebuah permainan, maka di dalamnya ada alat permainan, aturan main, pemain, dan pengatur permainan – seperti dalam sebuah permainan sepakbola, ada bola, stadion – lapangan, tim, peraturan – tata tertib, serta perangkat pertandingan. Sepakbola memang asik untuk dimainkan ataupun ditonton, akan tetapi jangan lupa dan harus hati-hati bahwa orang-orang di tribun juga ikut bermain, terkadang mereka duduk di kursi VIP, atau bahkan bisa saja menyamar sebagai suporter di tribun ekonomi, saya tidak ingin menyebut mafia itu seperti setan dalam kehidupan. Sampai sini paham?

Permainan apa yang layak untuk dimainkan dalam hidup ini? Ya jawabannya kehidupan itu sendiri. Semua berlomba, semua ikut berkompetisi, semua pernah merasakan kemenangan, semua pernah merasakan kekalahan, itulah circle waktu. Istilah orang sunda mah “Batu turun, keusik naék” ; dulu rakyat sekarang jadi pejabat, dulu pejabat sekarang menjadi rakyat, dulu susah sekarang senang, dulu senang sekarang susah, itulah hukum waktu. Bahasa santrinya “Tompul Knok” dari titik nol ke 180° – 181 ke 360°. Siapa yang memegang Tompul Knok tersebut dialah pemenangnya. Dalam sebuah gurauan selalu saja menghasilkan celetukan yang membuat saya mengernyitkan dahi, setahun ini saya perhatikan, banyak sekali pakar-pakar (orang-orang pintar) analisa yang melakukan riset tentang kehidupan, sebut saja Fulan bin Fulan, ahlinya-ahli, dan yang paling menarik adalah sosok yang tiba-tiba muncul ke permukaan dan mengaku sebagai petinggi “Sunda Empire”, dari semua pakar-pakar dunia goyon, ternyata statement si mas ini yang paling akurat, dan saat pertama kali bergema dalam telinga saya adalah tentang akan adanya “Tatanan Dunia Baru'” kalian menyebutnya “New Normal”. Ternyata Allah SWT tidak semata-mata mengisyaratkan dalam penggalan ayat tersebut. Top dahhh

Di akhir paragraf saya akan sedikit menasehati diri saya sendiri, setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun adalah pertandingan bagi kita, ingat lawan kita ada dalam diri kita sendiri.

Nomina, 2 Juni 2020