Kedot

Seperti buih dan riak menyentuh bibir pantai, mengelupas pasir putih, mengikis lembutnya.

Harum semerbak bunga karang yang kuncup di permukaan laut biru, menawarkan ragam

Riuh gemuruh ombak dikepak sayap angin, bergeraklah tangan dayung, bergerak menuju gelombang.

Seia sekata, tiada pertengkaran, begitulah alam saling menyepakati hukumnya

Manusia?

(Nomina, 2004)

Doa dan Ijabah

“Manusia kerap terjebak oleh ketidaksabaran ia terjerumus dalam kubangan lumpur waham (kesalahan pemikiran) tentang dirinya sendiri”

Catatan Hikam

Robiutssany -1425 H-

Saya tidak punya buku ataupun bacaan seperti yang telah direkomendasikan oleh teman-teman sesama blogger, jadi apabila tulisan saya minim tentang sastera mohon dimaklumi, sebenarnya saya sangat antusias sekali untuk mempelajarinya, saya ingin membeli sebuah buku seperti orang lain, mereview, menguraikan isi-isinya, namun keterbatasan dana selalu menjadi kendala. Jadi saya manfaatkan sebuah coretan-coretan beberapa tahun silam – di sebuah asrama Sallafy. “Al-hasil semua bentuk tulisannya, acak-acakan” hehehe.

Sudah Tanggal 6 di bulan ke-6, Juni 2020 M, saya ingat sebuah pasal ke-6 dari 234 Bab – Pasal. Sebuah judul tentang “Do’a dan Ijabah” – Ridho dengan Pilihan-Nya. Bagaimana bisa seorang manusia menghakimi Tuhannya, sedangkan Dia adalah hakim terbaik, Dia maha tahu apa yang akan terjadi pada seorang manusia, Dia mengerti apa yang kita inginkan, namun Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita – tidak bisa ditawar.

Sekalipun kau merasa dekat dengan-Nya, kedekatan itu tidak akan mampu merobek tirai takdir yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz (sebuah ketentuan nasib), karena sesungguhnya Dekat adalah Jarak. Untuk memahami kepada hal ini tentu diperlukan belajar, misal : seseorang telah berusaha ekstra menjalankan usaha (syariat) untuk meraih sesuatu yang dicita-citakannya tidak hanya sekedar menengadahkan tangannya sambil memusatkan kekhusyuan pikiran, menarik hasrat ke atas, niat agar sebuah doanya bisa didengar oleh-Nya, usahanya telah ia tempuh dengan maksimal, tapi usaha adalah “rencana” bukan sebuah penentuan hasil.

Seseorang ingin berjodoh dengan seorang perempuan atau lelaki yang diinginkan ; maka jawabannya adalah : “Sekalipun dirinya dan seluruh malaikat turut memanjatkan doa maka bila itu bukan haknya dan tidak tertulis di Lauhil Mahfudz pasti tidak akan terlaksana. Jodoh adalah sebuah isyarat akan objek yang telah disediakan, tetapi keinginan akan perempuan atau lelaki tertentu adalah Syahwat dan Wahamnya yang masih belum surut.

– I n t u i s i –

“Jika ingin menggenggam, maka lepaskanlah apa yang ada dalam genggaman”

Apakah kita pernah memperhatikan ukuran telapak tangan kita? Betapa kecil dan sangatlah terbatas, ia hanya akan mampu membawa apa yang mampu di genggam. Jangan seperti anak kecil yang membawa beberapa mainan, karena tidak ingin mainannya di pakai oleh temannya ; di tangan kanannya sebuah mobil-mobilan, di tangan kirinya sebuah robot-robotan, kemudian lengannya meraih mainan lainnya, akhirnya jatuh pula. Sifat kekanak-kanakan itu terkadang muncul dalam kehidupan orang dewasa – manusia inilah yang dinamakan tamak atau rakus. Sebenarnya Dia telah memberikan gambaran, jika kita ingin merengkuh semuanya, maka simpanlah barang-barang (dunia) itu dalam sebuah wadah ikatlah dengan sebuah tali (dienulhaq) lalu genggamlah talinya dengan erat, “dunia” tidak akan lari dari genggamanmu.

Kembalilah kepada titik nol (besar), dimana di dalamnya tidak terdapat angka-angka atau nilai yang lainnya, jadikan nol itu sebagai bejana yang kerap akan terisi sendiri dengan apa yang telah ditentukannya, karena ketentuan yang paling baik selalu datang dari-Nya, dan lebih baik dari apa yang diupayakan oleh kita. Teruslah meminta dan lepaskanlah apa yang kita minta, tidak ada keinginan yang tidak dikabulkan oleh-Nya

Nomina, Juni 2020

Tashdiq

Ada yang datang dengan sangat kuat. Tak kasat

Dari debar jantung, bergetar setiap sisi, menggugurkan kekhawatiran dari kalbunya.

Terkadang penuh dan sesak, terhamparkan dirinya, dalam ruang fana’

Tak bosan meminumnya, tak kalah peneguknya

Mabuk dalam keabadian, ketika tiba padanya, bugarlah peneguknya

Nomina, Jumadil Ula 1425 H

Duka Lara

Telah kuperah malam dengan berjuta gairahnya, kontan ia tunaikan gelap dan kesunyian, dingin dan kealpaan

Tuntas jelajahi rimba pada kemarau panjang, hanya harimau dan serigala-serigala buas datang menerkam

Rinduku tenggelam terbawa ombak dan badai, meluapi rahasia batinku, betapa sepi sang perindu selalu tergulung jiwanya.

Nomina, 3 Juni 2020

Hidup adalah Permainan

“Saat ia membuka sebuah pintu perkenalan kepadamu, maka jangan kau sandingkan keberadaan pengenalan itu dengan kurangnya usahamu, karena sesungguhnya ia tidak membukakan pengenalan itu untukmu, kecuali ia semata-mata ingin memperkenalkan dirinya kepadamu”

Ris Qsy

Kehidupan yang Hidup (Wa nusuki Wa Mahyaya) Petunjuk dalam Doa Iftitah

Berada dalam ruang lingkup kehidupan orang-orang yang humoris itu menguntungkan, saya bisa terlepas dari semua kepenatan, saraf yang tegang menjadi kendor, otak yang panas menjadi dingin, mental yang turun menjadi naik, itu juga tergantung faktor internal diri kita sendiri, yang selera humornya rendah jangan coba-coba karena sesungguhnya kehidupan itu terlalu mahal untuk diseriusin. Saya mengatakan ini sebuah “kehidupan” – tidak mengatakan tentang hidup, kehidupan adalah Rububiyah – material dan non material (uang, jabatan, popularitas, syahwat, nafsu, ego, dusta, dan lain sebagainya) sedang hidup (sebatang tubuh) adalah Ubudiyah (Kuring dan kurung) jasmani dan rohani. Paham?

Jauh hari Allah SWT telah mengisyaratkan dalam penggalan ayatnya :

Wamalhayaatuddunya Illaa Mataa’ul ghurur : Kurang lebih maksudnya seperti ini, “Dan kehidupan di dunia ini hanya sekedar permainan (gurauan)”

Apabila kehidupan ini seperti sebuah permainan, maka di dalamnya ada alat permainan, aturan main, pemain, dan pengatur permainan – seperti dalam sebuah permainan sepakbola, ada bola, stadion – lapangan, tim, peraturan – tata tertib, serta perangkat pertandingan. Sepakbola memang asik untuk dimainkan ataupun ditonton, akan tetapi jangan lupa dan harus hati-hati bahwa orang-orang di tribun juga ikut bermain, terkadang mereka duduk di kursi VIP, atau bahkan bisa saja menyamar sebagai suporter di tribun ekonomi, saya tidak ingin menyebut mafia itu seperti setan dalam kehidupan. Sampai sini paham?

Permainan apa yang layak untuk dimainkan dalam hidup ini? Ya jawabannya kehidupan itu sendiri. Semua berlomba, semua ikut berkompetisi, semua pernah merasakan kemenangan, semua pernah merasakan kekalahan, itulah circle waktu. Istilah orang sunda mah “Batu turun, keusik naék” ; dulu rakyat sekarang jadi pejabat, dulu pejabat sekarang menjadi rakyat, dulu susah sekarang senang, dulu senang sekarang susah, itulah hukum waktu. Bahasa santrinya “Tompul Knok” dari titik nol ke 180° – 181 ke 360°. Siapa yang memegang Tompul Knok tersebut dialah pemenangnya. Dalam sebuah gurauan selalu saja menghasilkan celetukan yang membuat saya mengernyitkan dahi, setahun ini saya perhatikan, banyak sekali pakar-pakar (orang-orang pintar) analisa yang melakukan riset tentang kehidupan, sebut saja Fulan bin Fulan, ahlinya-ahli, dan yang paling menarik adalah sosok yang tiba-tiba muncul ke permukaan dan mengaku sebagai petinggi “Sunda Empire”, dari semua pakar-pakar dunia goyon, ternyata statement si mas ini yang paling akurat, dan saat pertama kali bergema dalam telinga saya adalah tentang akan adanya “Tatanan Dunia Baru'” kalian menyebutnya “New Normal”. Ternyata Allah SWT tidak semata-mata mengisyaratkan dalam penggalan ayat tersebut. Top dahhh

Di akhir paragraf saya akan sedikit menasehati diri saya sendiri, setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun adalah pertandingan bagi kita, ingat lawan kita ada dalam diri kita sendiri.

Nomina, 2 Juni 2020