Inspirasional

“Saripati kemurnian diri yang dihasilkan dari olahan pengalaman adalah dasar mengenali diri sendiri”

nomina
foto : dokpri | “Mirun Seuneu”

Bayi nan mungil itu terbaring dalam hati setiap manusia, menunggu dibangunkan oleh pemiliknya, terbang melepasi padang yang tiada berkesudahan. Padang yang dipenuhi ornamen kegilaan hidup, nuansa samar begitu kental mencampuri segala urusan. Terbang bersama pandang nyata, hinggap lagi di tengah-tengah rupa, warna yang pekat, aroma yang kuat meluapi segala sektoral. Terkadang menghasilkan bau busuk yang meracuni tubuhku dan berujung menyumbat pernafasan. Seharusnya mata ini mulai mengurusi perkara-perkara yang tidak pernah dilihat mata sebelumnya, tiada siapa diajak bercerita mengenai-Nya, tiada siapa untuk melukiskan-Nya. Tempat yang menjadi rumah kediaman bagi mereka yang meninggalkan diri mereka dan menemui-Nya. Warna-warna itu menaburi mata, layaknya polesan maskara di balik lancipnya bulu mata, kemudian meresap melalui lobang pori hingga menetap pada apapun yang dipandang.

Ada rindu yang tak berkesudahan, mengendap dalam lubuk hati yang paling dalam. Sejak pertama kubacakan beberapa sabda-Nya, turut serta menghancurkan jiwaku. Tidak mudah menemukan diri sendiri dalam keadaan pecah hingga berkeping-keping. Usia yang labil saat itu menunjukan ruas-ruas jalan yang begitu lebar, hingga ingin sekali kulalui, tanpa memikirkan satu arah pasti. Tujuan-tujuan murni menjadi hilang begitu saja tertutup candu yang bertahtakan “kesenangan”.

Boleh jadi, umur menunjukan kewarasan berpikir dan kedewasaan bersikap, mencari rejeki di jalan-jalan menemui irama dengan petikan jari, hingga syahdunya nada-nada major menyeretku menjadi minoritas di kehidupan yang hakiki. Beruntung sekali Rahman-Rahim-Nya kuterima dengan tegas dan penyerahan diri menunjukan inti dari mana aku hidup dan akan sampai di mana aku kembali. Tidak ada yang paling dekat kecuali mati dan jalan kematian terbentang luas setiap detiknya. Pekerjaan yang diurusi, bentuk kehidupan yang bersama setiap saat, materi dan kejayaan yang diraih, serta pangkat dan jabatan yang telah dinobatkan hanya bingkai kecil yang menghiasi keaslian wujud nyata. Masihkah aku membutuhkan cermin agar terlihat menawan di depan orang-orang, atau warna-warni pakaian yang membutakan keindahan-Nya? Tentu saja hal-hal seperti itu pada dasarnya akan terasingkan sendiri. Sadar ataupun tidak bahwa setiap nafas adalah wadah takdir-Nya.

Rintangan adalah titik yang perlu dihubungkan pada setiap fase, gelap dan berbahaya menjadi tempat yang ideal untuk seorang jawara, berbahagialah setiap kesusahan, bersukarialah pada setiap gesekan, karena berharganya sebuah perjalanan merupakan pengalaman yang tak akan pudar warnanya.

Tulisan lainnya Klik di sini

Nomina, Dzulhijjah 1441

Penulis: nomina

"Datang dari sebuah peradaban, tercipta karena perjanjian, dan dibina oleh ikatan"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s