Tendangan Sudut

Gambar : Mbah Google

Hallo teman-teman! Tidak terasa kita sudah sampai di tahun yang baru, semoga semuanya dalam keadaan baik-baik saja, saya paham sebagian orang cukup dikejutkan dengan adanya fenomena alam yang sungguh luar biasa, namun dengan kesabaran kita sebagai manusia dan juga rahmat dari-Nya, kita senantiasa bisa melewati tahun yang sangat mengkhawatirkan ini. Tak lupa saya turut mengucapkan selamat tahun baru 2021 semoga kita bisa bertahan dan mempunyai cukup bekal guna menghadapi segala hal yang tidak kita inginkan di tahun-tahun berikutnya.

Ternyata saya cukup syok ketika menanyakan keadaan orang-orang yang punya target jangka panjang dalam meningkatkan kualitas dan taraf hidup yang lebih baik, dan semua jawaban mereka berisikan tentang keluhan. Ada proyekan yang gagal, bisnis yang terbengkalai, kegiatan yang terhambat. Resolusi yang disusun di awal tahun kemarin menjadi semacam gurauan, banyak rencana yang digagas dengan matang terasa sia-sia. Sebuah bukti bahwa peran kita sebagai manusia hanya bisa melakukan perencanaan dan tidak ada kemampuan untuk mewujudkannya. Dan saya pun merasakan hal yang sama, begitu sesak di dada, terlebih di tahun ini saya merasakan banyak kehilangan orang-orang terdekat, tokoh idola dan semua yang diagendakan harus berakhir dengan keputusan yang berat. Meski tidak sempat saya tuliskan agenda apa saja yang saya rancang, namun sepenuhnya saya jalani dengan sebagaimana mestinya.

Saat ini bulan Januari, hujan gerimis mengawali kedatangan fajar dari timur yang senantiasa  menunaikan tugasnya menaburkan hangat pada daun-daun hijau yang diselimuti embun pagi. Rintik masih bertahan sejengkal dari tiap tetesnya. Kabut putih hilir mudik menanjak dari lembah menuju perbukitan. Meski cuaca mulai memasuki musim hujan tapi orang-orang tidak sedikitpun menampakkan wajah-wajah kegelisahan. Terlihat sekelompok orang-orang sedang asik berolahraga, dan sebagian lagi di pinggir lapangan dengan semangat menjajakan dagangannya.

Gambar : dokumen pribadi
Gambar : dokumen pribadi

Ekor di Ujung Tanduk

Perkembangan teknologi semakin pesat, sadar atau tidak pada saat ini kita sedang berada di depan pintu peradaban baru, dimana semua itu dibuktikan dengan begitu mudahnya akses satu arah dan sepenuhnya sudah terkoneksi secara otomatis, transaksi jual beli semakin mudah, bahkan secara keseluruhan sudah hampir merata. Jika dilihat dari pengetahuan orang-orang intelek, saat ini adalah waktu yang tepat untuk menggambarkan kemajuan jaman, akan tetapi jika dilihat secara global, peradaban saat ini menggambarkan kemunduran. Bukti dari kemundurannya jaman, adalah ketika musim yang tidak menentu, orang terdahulu selalu tepat dalam penghitungan waktu, masyarakat di perkampungan bisa dengan mudah menghitung jarak waktu untuk mulai menanam bibit tanaman, hingga mempersiapkan saat masa panen tiba, tapi pada saat ini mereka menjadi was-was bahkan putus asa, disebabkan kondisi alam yang sudah tidak menentu, akibatnya sandang dan pangan mengalami kekurangan, krisis terjadi di mana-mana, tak jarang tempat yang digadang-gadang menjadi lumbung padi pun mengalami kendala, kekurngan bahan makanan terjadi, dampaknya kehidupan sosial seakan terperosok jauh pada lobang kemiskinan.

Untuk saya renungkan

Sekarang rumah-rumah semakin mewah dan besar akan tetapi rasa kekeluargaan semakin menyempit. Hubungan keluarga terasa hambar karena setiap individu sibuk dengan urusan masing-masing. Kemajuan pada saat ini justru memberikan akibat yang luar biasa, toh buktinya kasus perceraian merebak di mana-mana, bahkan saya sempat berbicara dengan beberapa orang dari sebuah lembaga yang mengeluhkan kasus-kasus tersebut, padahal klaim kemajuan ekonomi pada saat ini dinilai lebih gampang, tapi hasil akhirnya justru kendala ekonomi yang selalu dipersoalkan.

Gelar pendidikan semakin tinggi tapi akal sehat dan pemikiran menjadi rendah, ada yang janggal saat saya melihat gambaran-gambaran tersebut. Hal-hal yang di luar logika terkadang keluar dari orang-orang yang gelarnya tinggi, dan cenderung jauh dari pikiran-pikiran orang waras.

Ilmu kesehatan semakin canggih, tapi kesehatan semakin jelek. Alat-alat kesehatan dengan harga yang mahal dengan macam-macam fungsi sudah terdapat di mana-mana, tapi sebaliknya kesehatan pun menjadi semakin buruk, untuk sekedar menangani penyakit flu saja susahnya minta ampun, dengan dalih penyakitnya bisa bermutasi, dan alasan yang macam-macam. Jika kita berkaca pada masa lalu, kita mengalami kemunduran yang cukup drastis. Buktinya untuk sekedar mengobati penyakit flu cukup dengan kompressan daun herbal, dan hasilnya itu lebih efektif.

Penghasilan semakin meningkat, tapi ketenteraman jiwa berkurang. Pergi pagi pulang hingga larut malam untuk meningkatkan penghasilan, dengan alasan agar kebutuhan tercukupi, hasilnya pun maksimal dan bahkan melebihi apa yang diperlukan, namun kondisi kebutuhan jiwa tidak sepenuhnya terpenuhi, bahkan ada yang mengalami kehilangan kebutuhan batin yang luar biasa. Tentu menjadi pertanyaan yang mendalam bagi analisis pribadi. Ekonomi meningkat, kesehatan raga terjamin, tapi kebutuhan jiwa menjadi penyakit yang sangat mengkhawatirkan.

Jumlah manusia semakin banyak, tapi rasa kemanusiaan semakin tipis. Populasi penduduk bertambah ; jumlah manusia semakin meningkat, tapi rasa kemanusiaan semakin berkurang. Jika meninjau kehidupan di masa lalu sangatlah kontras dengan apa yang terjadi pada saat ini. Rasa kemanusiaan seakan-akan lenyap begitu saja. Orang-orang semakin cuek dengan kondisi sekitarnya, kita bisa melihat beberapa kegiatan yang dilakukan sebagian orang dengan bangganya keliling dunia sampai tempat yang jauh sekalipun ia kunjungi, akan tetapi dengan tetangga terdekat semakin tidak saling mengenal satu sama lainnya.

Jutaan teman di dunia maya, tapi tidak mempunyai sahabat sejati. Follower berjuta-juta tapi sosok sahabat sejati semakin berkurang, fenomena inilah yang ingin saya kupas secara aktual sebagaimana gambaran kemunduran peradaban yang sesungguhnya.

Pengetahuan semakin bagus, tapi orang arif semakin kurang. Yang muda bercakap-cakap dengan lantang, sementara rasa bijaksana nyaris hilang ditelan oleh popularitas sehingga dengan begitu mudahnya saling hujat satu sama lainnya.

Minuman semakin beraneka ragam tapi air bersih semakin kurang. Krisis air bersih pada saat ini menjadi masalah yang besar, padahal air hujan dari langit belum sepenuhnya ditahan, tapi dikarenakan sumber mata air di setiap kawasan dijadikan lahan bisnis oleh sekelompok orang yang mempunyai modal. Tentu ini sangat mengkhawatirkan blue diamond yang sempat di bahas pada dua dekade yang lalu menjadi benar-benar nyata.

Jam tangan mahal dengan merk yang keren, tapi kurang dalam memperhatikan waktu. Dengan alasan adu gengsi, dan perhatian terhadap gaya hidup yang tinggi, namun kita sering mengabaikan waktu. Jika waktu seperti pedang tajam, maka jam yang terpasang di lengan bisa dengan cepat memotong setiap kesempatan kita, apabila kita tidak tanggap dan tidak mempergunakan waktu dengan bijaksana.

Pendidikan dan pelajaran semakin mudah kita dapatkan, tapi penghargaan kepada seorang guru semakin berkurang. Nyaris di setiap kesempatan kita bisa mudah mengakses pengetahuan dan pelajaran akan tetapi penghormatan dan tatakrama kepada guru semakin berkurang. Sering kita lihat dan dengar wara-wiri kasus tentang seorang pelajar yang mengadukan gurunya kepada orang tua karena sebuah teguran bagi si murid saat pelajaran berlangsung. Keanehan ini muncul beberapa waktu yang lalu, dimana seorang guru dilaporkan kepada pihak yang berwajib karena si murid tidak menerima atas perlakuan guru terhadapnya. Tentu sangat jauh berbeda dengan kondisi pada jaman dahulu kala, dimana seorang guru mempunyai wibawa dan daya magis yang tinggi ketika mengajarkan murid-muridnya tentang pelajaran. Rasa takut dan rasa hormat ; segan selalu menjadi poin utama bagi pelajar pada saat itu. Tentu akan lebih banyak lagi fenomena-fenomena alam yang terjadi jika kita melihat dengan mata yang jernih, Inilah fase ke empat pada peradaban dunia yang sedang kita alami. Dan yang paling penting mari kita lihat gambaran secara keseluruhan dari sudut pandang agama, bahwa saat inilah fase ke empat pembukaan peradaban dunia yang sedang berlangsung.

Bersambung :

Nomina, 8 Januari 2021