Kiasan adalah pelajaran untuk membuka jalan perubahan

Nomina

Dokpri

Jangan anggap remeh pelajaran yang satu ini, menurutku ini adalah pelajaran yang menjadi tolak ukur untuk menaikan level otak dan pemahaman murid di pendidikan pesantren, terutama dalam bidang ilmu alat. Meskipun kiasan hanya pelajaran kelas dua, tapi pendapatku kiasan akan membuka pengertian yang menggantung pada pelajaran kelas satu ; Jurumiyah, Imriti, Yakulu. Pelajaran kiasan terkadang disepelekan, karena isinya menuntut kita untuk cerdik menerka huruf dan kata-kata dalam bahasa arab. Perubahan bentuk logat (bahasa) berbeda setiap masanya, tentu bahasa yang digunakan setiap orang berbeda-beda pula.

Kerumitan pelajaran ini sangat kontras karena kita akan dipertemukan dengan huruf-huruf elat ; huruf penyakit. Huruf elat tersebut terkadang menyelinap masuk dan membuat kata menjadi tidak tersusun dengan baik serta sulit untuk menemukan kata asal dan ghair asal. Jadi teringat pelajaran anatomi tubuh. Kita bisa merasakan rasa sakit tak menentu apabila tubuh kita sedang dihinggapi penyakit. Perasaan anggota tubuh menjadi tidak jelas, sehingga bisa menghasilkan rasa sakit. Sedangkan untuk menemukan maksud atau arti kalimat yang diucapkan adalah dengan mengetahui amil ; kata perintah baik amil nasab, amil kasrah, amil dhomah ataupun amil jazim ; sukun, karena hanya dengan mengetahui amil kita bisa menentukan i’rab, mu’rab dan mabni kata tersebut.

Kita tahu efek dari menyentuh api adalah terbakar, memainkan pisau bisa tergores, kehujanan akan mengakibatkan terserang penyakit flu atau meriang, tidak menggosok gigi atau tidak membersihkannya maka gigi tersebut akan kropos dan akan mengakibatkan sakit gigi, dan sebenarnya kita memahami akibatnya tapi kita sering melanggar larangan tersebut, “namanya juga nyari penyakit”. Dan yang paling penting adalah huruf elat (penyakit) itu bisa masuk ke dalam kata, karena sesungguhnya kata yang kita ucapkan sehari-hari itu terdapat dua macam asal dan ghair asal. Tapi jika kata itu sudah terbentuk secara asal (salim ; selamat, bersih dari huruf elat) tidak perlu disuntikkan ke dalam kata tersebut, karena akan mengubah bahkan merusak makna kata tersebut. Semoga artikel ini bisa dipahami dengan perubahan jaman pada masa ini.

Wasalam
Nomina, 16 Januari 2021