Dokpri : Nominashot

Aku percaya bahwa kebenaran itu berada di satu ujung jalan

Nomina

Pukul tiga sore, jarum jam terus bergerak, hanya berjarak beberapa derajat, perut sudah terisi dengan sepiring nasi dan sayur yang tersedia di dapur Pak Kiyai, lebih tepatnya tempat para santri mengambil jatah makanan. Memang agak kaget, dulu jarang sekali santri masuk ke dapur, hanya santri yang cukup dewasa saja yang berani memasukinya, karena beberapa waktu yang lalu kami ; aku dan seangkatan, memilih membiasakan diri untuk memasak di tungku santri, dengan peralatan seadanya, bahan bakar seadanya, tentu yang di santap pun seadanya, terlebih kami para santri laki-laki yang sudah agak dewasa kebanyakan bekerja di tetangga-tetangga sekitar komplek pesantren, ada yang ke kebun, ke sawah, ke ladang dan banyak lagi pilihan lainnya, sehingga untuk sekedar makan sehari-hari selalu terpenuhi. Lain dengan era sekarang hampir di setiap tempat selalu disediakan makanan setiap waktunya. Syukur tak henti kuagungkan kepada-Nya, apa yang kudapat setiap hari memang perlu dikembalikan sepenuhnya.

“Cicing baé di kobong, engké wurukanan barudak, bagéan Jauhar Taohid, tingalian we dina kitab bapak, bisi kaliwat nadomna, atawa paké wé kitab nu manéh ari kumplit logat jeung nadomna mah, bapak rék aya pangajian di luar!”

Beliau berbicara lantang saat itu. Aku memang tidak terlalu sering bicara dengan Pak Kiyai jika di depan anak-anak lainnya, hanya semata-mata rasa hormatku dan sekaligus mengajarkan mereka bahwa tatakrama itu penting diterapkan pada kehidupan sehari-hari, beda halnya saat berdialog empat mata.

Aku tidak mengiyakan juga tidak berani menampik perintah, jangankan sekedar membaca kitab, lebih berat dari itu aku tidak pernah menolaknya. Memang ada hal aneh apabila Pak Kiyai sudah menyuruhku, hal rumit sekalipun bisa dengan mudah diselesaikan, tapi Kali ini aku mulai canggung karena yang ku ketahui kitab tersebut logatnya cukup dalam dan beda dari kitab-kitab tauhid lainnya. Ah untuk masalah ini nanti aku ingin sekali menulisnya.

Meski hanya tiga orang yang ikut kelas santri dewasa tapi tidak pernah sedikitpun aku merasa jenuh, bahkan aku termasuk yang paling dewasa diantara mereka, karena sepulang dari perantauan aku jarang pulang ke rumah. Kobong santri menjadi rumah keduaku. Semoga mereka juga tidak canggung ketika belajar satu kelas bersamaku, karena aku memang tidak sekedar manggut-manggut ketika sedang mengikuti pelajaran. Kebetulan sekali pelajaran Ushul Fiqh menjadi standar pada kelas tersebut dan memang aku cukup menyukai pelajaran tersebut.

Aku duduk di teras luar sambil mengoreksi logat kitabku yang sudah hampir lapuk, maklum saja delapan belas tahun yang lalu aku mempelajarinya, beruntung tinta pada masa itu kualitasnya sangat bagus, jadi saat Pak Kiyai ada sedikit kekeliruan aku bisa langsung menanyakannya. Sedangkan Santri putri berada di dalam ruangan rumah pak kiyai dikarenakan ruang madrasah sedang digunakan oleh santri lainnya. Banyak juga orang-orang yang bicara buruk karena aku lebih memilih kembali ke habitat asal ku. Di saat orang-orang memilih mengikuti keadaan jaman, aku justru ingin selalu kontradiksi dengan keadaan pada masa ini, karena dengan cara ini aku lebih mendapatkan sesuatu yang menjadi tujuan orang-orang. Dan untuk terakhir kalinya “Tinggalkan Saja Aku, Aku Sibuk Membuka Jalan”.

Nomina, Kota Santri, 24 Januari 2021