Dokpri : nominasite

“Tergantung seberapa lihai cara orang memotong rotinya, kita akan mengetahui berapa banyak potongan yang dihasilkan, semakin tipis irisannya, semakin cepat lenyap dari meja makan

Kota Santri/nominasite.home.blog | Ada Sebuah meja makan di tengah ruangan, lengkap dengan berbagai menu, dari yang standar hingga menu spesial, juga menu pembuka sampai menu penutup. Tapi ada satu makanan yang khas yang tidak akan pernah hilang dari setiap kita makan meskipun saat ini sudah terlihat modern. Dengan inovasi yang cerdik dan perbedaan selera setiap orang, tentu makanan itu semakin lama akan semakin hilang, bahkan karena kebiasaan-kebiasaan baru serta sifat estetik yang disuarakan, sesuatu yang khas di atas meja makan itu akan semakin disingkirkan. Padahal dalam makanan tersebut mengandung banyak manfaat dan menambah kemaslahatan bagi orang yang memakannya.

Jika sebuah ketentuan ; Hukum (Taklif wal wadhi’) ibarat makanan yang tersedia di atas meja makan, , maka seseorang yang tidak punya selera ; tidak menyukainya, akan berusaha untuk menyingkirkan, tentu dengan segala cara akan dikerahkan. Skill memotong, mengiris bahkan menumbuk hingga habis dan tidak bisa dimanfaatkan, bila perlu hancurkan nampannya, karena itulah tujuannya akhirnya. Saking tipisnya irisan-irisan si tukang jagal, hingga terasa seperti kain sutera yang beracun, karena lembutnya yang membuat terpesona hingga lupa bahwa racunnya sudah menjalar ke dalam pori-pori kita. Dengan dalih ada sebab yang sama sekali tidak masuk fakta dan kaidah Ushul ; hakikat, hingga kita dipaksakan untuk tetap bergelayut di ranting yang telah terpotong oleh senjata tajam yang mematikan. Berapa ketentuan kaidah ushul yang hilang sejauh ini? Sangat tidak terasa. Bagaimana ranting akan berbuah apabila batang dipaksakan untuk tumbang?

Oh betapa sakitnya hatiku, dikala benang-benang itu kau potong, terbang tubuhku, melayang jauh, terbawa angin, jatuhlah di atas kubangan nista”

Nomina, Kota Santri, 25 Januari 2021