Ijtinab

Dan Tuhan membangun dinding tebal tepat di depan mataku

seseorang menyentuh dinding itu

Angin dingin mampir di dada
tangan-tangan kasar menangkap “Kosong” katanya

Bisikan kecil mengetuk hati berkali-kali membangunkan jasad yang terbaring, ditiupkannya kehidupan
“bangunlah” ucapnya

Rasa fisik yang hilang
diam-diam tertanam bibit-bibit
Tumbuhlah gambar imajinasi

Nomina, Juni 2020

Sandekala


Seorang gembala menyadari hal-hal yang diberlakukan atasnya – upah dan jasa yang sangat sedikit dan besar resiko peliharaannya diganggu sekelompok hewan buas, tak jarang habis dimangsa. Namun seorang gembala menyadari dirinya harus dengan sukarela mengurusi ternaknya, yang paling penting dari seorang gembala adalah menjaga asa agar tugasnya selalu dilakukan dengan sukacita juga dilandasi kegembiraan.

Sang gembala tahu diri, kapan ia harus turun dari bukit yang tinggi, melewati lembah curam hanya untuk sampai di sabana, menyeberangi hijau raya – berkah hidup yang di karuniakan. Gembala tahu persis waktu untuk berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya, guna menyiasati tumbuh kembang pakan rumput agar tersedia setiap harinya.

S A N D É K A L A

Angin menyerahkan dirinya kepada senja, Memerintah pucuk-pucuk menguning itu, menari di pelupuk

Batangnya mencakar langit, Merobek Mega penuh warna

Terbukalah pintu malam yang lebar, tanpa menilai kecemburuan

Siang bukanlah seorang jalang, meski mengencani matahari sejak pagi

Sandekala datang menjelma, berpamitan pada jejaknya

(Nomina, Juli 2020)

Makrokosmos

Malam ini Tuhan sedang melucuti cahaya langit, sepuluh hari menuju perubahan musim membuat dadaku berdetak kencang, bulan yang kukagumi tengah bersembunyi di balik tanggal tua – menuju pergantian. Sejak kecil sudah menjadi topik hangat, sekelumit pertanyaan saling berkejaran di kepala, ia selalu menebar senyum tepat waktu pada tanggal lima belas di tahun Hijriyah setiap bulannya.

Mataku berkelana mengawasi gerak-gerik malam yang selalu komitmen mengenakan gaun gelap – pekat. Sementara rintik di bulan Juni masih menunggu jatah untuk turun ke bumi, bintik-bintik kecil yang menjadi pelipur lara menguasai langit, kerap menunjukan eksistensinya. Tak ada suara knalpot atau kegaduhan lainnya, demikianlah hidup di perkampungan, senyap. Meski waktu masih menunjukan pukul delapan malam, orang-orang sekitar sudah merangkai mimpi di atas ranjang tidurnya, hanya ada bunyi air yang jatuh ke permukaan kolam. Kilatan-kilatan cahaya semakin tegas memanjakan mata, lekas ku kemas apa-apa yang nampak dalam pikiran hingga terbit menjadi sepotong puisi yang urung tuntas :


KELEDAI JANTAN

Hatiku yatim
Tubuhku sahaya
Kembali

Di Kampung kecilku
Roh tertinggal
Asing

…..


(Nomina, 17 Juni 2020)

Anniversary

“Pengetahuan itu seperti tangan, ia bisa mengangkat bangunan tanpa tiang, tanpa dinding, tanpa lantai, dan tanpa atap, dan keyakinan ibarat penghuni yang senantiasa merawat keutuhannya”


Ada sebuah pepatah : “Umur setahun jagung, Darah setampuk pinang” – seorang bayi merengek minta disuapin, menagih air susu, wajar. Sudah menjadi satu kedisiplinan hukum Illahi yang tertata dengan baik apabila mudah bosan, jenuh, dan pesimis, apalagi dalam bidang menulis, sebuah huruf lahir dari perselingkuhan jari tangan yang dihalalkan oleh hati dan pikiran.

Ini blog ke-empat yang saya buat, masih bau kencur. Tepatnya satu tahun sejak reg, saya bermain-main di WordPress, hanya untuk sekedar menjaga keharmonisan hati dan pikiran. Menulis yang baik memang diperlukan “penguasaan”, pengelolaan bahasa, kejujuran, kebenaran isi tulisan, dan lain sebagainya. Jika membaca risalah seorang Rowi hadist yang masyhur dikalangan para sahabat, tentu saya tidak akan mampu seperti beliau, setiap satu hurufnya beliau melaksanakan wudlu, bayangkan saja, ribuan riwayat hadist sudah tertulis, bahkan dikaji sampai sekarang, dan saya yakin sebelum bumi ini dilipat, pun akan masih ada orang yang akan mempelajarinya. Semoga saya tetap konsisten untuk menulis

“Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak”

Pepatah

(nomina, 2020)