IDEA

Sandekala


Seorang gembala menyadari hal-hal yang diberlakukan atasnya – upah dan jasa yang sangat sedikit dan besar resiko peliharaannya diganggu sekelompok hewan buas, tak jarang habis dimangsa. Namun seorang gembala menyadari dirinya harus dengan sukarela mengurusi ternaknya, yang paling penting dari seorang gembala adalah menjaga asa agar tugasnya selalu dilakukan dengan sukacita juga dilandasi kegembiraan.

Sang gembala tahu diri, kapan ia harus turun dari bukit yang tinggi, melewati lembah curam hanya untuk sampai di sabana, menyeberangi hijau raya – berkah hidup yang di karuniakan. Gembala tahu persis waktu untuk berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya, guna menyiasati tumbuh kembang pakan rumput agar tersedia setiap harinya.

S A N D É K A L A

Angin menyerahkan dirinya kepada senja, Memerintah pucuk-pucuk menguning itu, menari di pelupuk

Batangnya mencakar langit, Merobek Mega penuh warna

Terbukalah pintu malam yang lebar, tanpa menilai kecemburuan

Siang bukanlah seorang jalang, meski mengencani matahari sejak pagi

Sandekala datang menjelma, berpamitan pada jejaknya

(Nomina, Juli 2020)

IDEA

Makrokosmos

Malam ini Tuhan sedang melucuti cahaya langit, sepuluh hari menuju perubahan musim membuat dadaku berdetak kencang, bulan yang kukagumi tengah bersembunyi di balik tanggal tua – menuju pergantian. Sejak kecil sudah menjadi topik hangat, sekelumit pertanyaan saling berkejaran di kepala, ia selalu menebar senyum tepat waktu pada tanggal lima belas di tahun Hijriyah setiap bulannya.

Mataku berkelana mengawasi gerak-gerik malam yang selalu komitmen mengenakan gaun gelap – pekat. Sementara rintik di bulan Juni masih menunggu jatah untuk turun ke bumi, bintik-bintik kecil yang menjadi pelipur lara menguasai langit, kerap menunjukan eksistensinya. Tak ada suara knalpot atau kegaduhan lainnya, demikianlah hidup di perkampungan, senyap. Meski waktu masih menunjukan pukul delapan malam, orang-orang sekitar sudah merangkai mimpi di atas ranjang tidurnya, hanya ada bunyi air yang jatuh ke permukaan kolam. Kilatan-kilatan cahaya semakin tegas memanjakan mata, lekas ku kemas apa-apa yang nampak dalam pikiran hingga terbit menjadi sepotong puisi yang urung tuntas :


KELEDAI JANTAN

Hatiku yatim
Tubuhku sahaya
Kembali

Di Kampung kecilku
Roh tertinggal
Asing

…..


(Nomina, 17 Juni 2020)

IDEA

Anniversary

“Pengetahuan itu seperti tangan, ia bisa mengangkat bangunan tanpa tiang, tanpa dinding, tanpa lantai, dan tanpa atap, dan keyakinan ibarat penghuni yang senantiasa merawat keutuhannya”


Ada sebuah pepatah : “Umur setahun jagung, Darah setampuk pinang” – seorang bayi merengek minta disuapin, menagih air susu, wajar. Sudah menjadi satu kedisiplinan hukum Illahi yang tertata dengan baik apabila mudah bosan, jenuh, dan pesimis, apalagi dalam bidang menulis, sebuah huruf lahir dari perselingkuhan jari tangan yang dihalalkan oleh hati dan pikiran.

Ini blog ke-empat yang saya buat, masih bau kencur. Tepatnya satu tahun sejak reg, saya bermain-main di WordPress, hanya untuk sekedar menjaga keharmonisan hati dan pikiran. Menulis yang baik memang diperlukan “penguasaan”, pengelolaan bahasa, kejujuran, kebenaran isi tulisan, dan lain sebagainya. Jika membaca risalah seorang Rowi hadist yang masyhur dikalangan para sahabat, tentu saya tidak akan mampu seperti beliau, setiap satu hurufnya beliau melaksanakan wudlu, bayangkan saja, ribuan riwayat hadist sudah tertulis, bahkan dikaji sampai sekarang, dan saya yakin sebelum bumi ini dilipat, pun akan masih ada orang yang akan mempelajarinya. Semoga saya tetap konsisten untuk menulis

“Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak”

Pepatah

(nomina, 2020)

IDEA

Hidup adalah Permainan

“Saat ia membuka sebuah pintu perkenalan kepadamu, maka jangan kau sandingkan keberadaan pengenalan itu dengan kurangnya usahamu, karena sesungguhnya ia tidak membukakan pengenalan itu untukmu, kecuali ia semata-mata ingin memperkenalkan dirinya kepadamu”

Ris Qsy

Kehidupan yang Hidup (Wa nusuki Wa Mahyaya) Petunjuk dalam Doa Iftitah

Berada dalam ruang lingkup kehidupan orang-orang yang humoris itu menguntungkan, saya bisa terlepas dari semua kepenatan, saraf yang tegang menjadi kendor, otak yang panas menjadi dingin, mental yang turun menjadi naik, itu juga tergantung faktor internal diri kita sendiri, yang selera humornya rendah jangan coba-coba karena sesungguhnya kehidupan itu terlalu mahal untuk diseriusin. Saya mengatakan ini sebuah “kehidupan” – tidak mengatakan tentang hidup, kehidupan adalah Rububiyah – material dan non material (uang, jabatan, popularitas, syahwat, nafsu, ego, dusta, dan lain sebagainya) sedang hidup (sebatang tubuh) adalah Ubudiyah (Kuring dan kurung) jasmani dan rohani. Paham?

Jauh hari Allah SWT telah mengisyaratkan dalam penggalan ayatnya :

Wamalhayaatuddunya Illaa Mataa’ul ghurur : Kurang lebih maksudnya seperti ini, “Dan kehidupan di dunia ini hanya sekedar permainan (gurauan)”

Apabila kehidupan ini seperti sebuah permainan, maka di dalamnya ada alat permainan, aturan main, pemain, dan pengatur permainan – seperti dalam sebuah permainan sepakbola, ada bola, stadion – lapangan, tim, peraturan – tata tertib, serta perangkat pertandingan. Sepakbola memang asik untuk dimainkan ataupun ditonton, akan tetapi jangan lupa dan harus hati-hati bahwa orang-orang di tribun juga ikut bermain, terkadang mereka duduk di kursi VIP, atau bahkan bisa saja menyamar sebagai suporter di tribun ekonomi, saya tidak ingin menyebut mafia itu seperti setan dalam kehidupan. Sampai sini paham?

Permainan apa yang layak untuk dimainkan dalam hidup ini? Ya jawabannya kehidupan itu sendiri. Semua berlomba, semua ikut berkompetisi, semua pernah merasakan kemenangan, semua pernah merasakan kekalahan, itulah circle waktu. Istilah orang sunda mah “Batu turun, keusik naék” ; dulu rakyat sekarang jadi pejabat, dulu pejabat sekarang menjadi rakyat, dulu susah sekarang senang, dulu senang sekarang susah, itulah hukum waktu. Bahasa santrinya “Tompul Knok” dari titik nol ke 180° – 181 ke 360°. Siapa yang memegang Tompul Knok tersebut dialah pemenangnya. Dalam sebuah gurauan selalu saja menghasilkan celetukan yang membuat saya mengernyitkan dahi, setahun ini saya perhatikan, banyak sekali pakar-pakar (orang-orang pintar) analisa yang melakukan riset tentang kehidupan, sebut saja Fulan bin Fulan, ahlinya-ahli, dan yang paling menarik adalah sosok yang tiba-tiba muncul ke permukaan dan mengaku sebagai petinggi “Sunda Empire”, dari semua pakar-pakar dunia goyon, ternyata statement si mas ini yang paling akurat, dan saat pertama kali bergema dalam telinga saya adalah tentang akan adanya “Tatanan Dunia Baru'” kalian menyebutnya “New Normal”. Ternyata Allah SWT tidak semata-mata mengisyaratkan dalam penggalan ayat tersebut. Top dahhh

Di akhir paragraf saya akan sedikit menasehati diri saya sendiri, setiap detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun adalah pertandingan bagi kita, ingat lawan kita ada dalam diri kita sendiri.

Nomina, 2 Juni 2020

IDEA

Hujan Sore Ini

Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam karena dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Syarah Kitab Futuhul Ghaib

“THE COCOKOLOGI”

Saya berangkat pagi ini dengan membawa perbekalan secukupnya ; seperangkat alat sholat dibawa tunai dalam tas kecil dan tak lupa perbekalan lainnya yang menjadi kewajiban, lengkap dengan alat tulis ; buku agenda “Tarbiyah Jagad” sengaja saya beri nama itu, karena kebetulan cover depan bukunya bertuliskan “Agenda 707”, jika kalian ke warung ataupun toko buku mungkin kalian menemukan judul buku yang sama, entah sejak kapan buku itu muncul di pasaran, dulu namanya “Agenda Kerja”.

Saat pertama kali saya memilih buku “Agenda 707” saya bertanya-tanya, angka tujuh yang di apit angka nol membuat saya berpikir lebih dalam lagi, “Tujuh lapis cakrawala yang kita lihat setiap malam dengan hiasan bintang gemintang serta sinar cahaya berupa wujud bulan, dan di tengah-tengah nya, adalah kekosongan (ruang hampa) tentu tidak se-kosong yang dibayangkan, kemudian setelahnya tujuh lapis (punggung) bumi yang dipijak oleh kaki mungil berupa makhluk hidup.

Sudah enam belas tahun saya mengoleksi buku agenda 707 itu, kurang lebih setahun tiga sampai empat buku saya habiskan, tentunya sesuai kebutuhan materi yang ingin saya tulis. Tak lupa pula saya memilih pena mana yang mudah saya gunakan, tentunya saya memilih pena yang ringan, agar dapat meringankan isi kepala, mungkin banyak di luaran sana yang punya kesamaan dengan hobi saya, terkesan jadul sekali, tapi ini suatu alat refleksi diri bagi saya.

Hampir setiap harinya saya menitikkan tinta di atas kertas kosong itu, entah apa yang ingin saya curahkan di dalamnya, apabila tak menghasilkan kata-kata yang diinginkan saya merefleksikannya pada sebuah gambar ; hewan, bangunan, pohon, manusia, yang orang lainpun tak banyak yang memahaminya.

Dering suara handphone bersahutan, nada panggilan yang mengemas keresahan tak jua ku perhatikan “Hari ini saya Off dari hiruk-pikuk keseharian” dengan serba-serbi alasan yang saya anggap kurang jelas untuk dicerna lebih dalam. Sepertinya sudah satu pertiga kota ini dijelajahi tanpa kupikirkan sampai dimana berhenti roda dan kaki ini menyudahi perjalanan, berhentilah di sebuah konter HP, karena cuaca sudah mulai murung, saya tidak bisa melawannya. Saya duduk sambil meminta ijin untuk mengisi baterai HP yang mulai surut tenaganya.

“Kenapa dia bang?” Saya bertanya kepada si pemilik konter

“Jangan ditatap mukanya, biarkan saja, dia sedikit kurang sehat, nanti dia ngamuk!” Pemilik konter itu menjelaskan

Saya tidak merasa takut sekalipun, malah semakin penasaran dengannya, kuambil sebungkus roko dari tas kecil.

“Lagunya bagus bang, Dream Theater ya?” Saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Ya Dream Theater” Sahutnya.

“Nyanyi sekali lagi boleh gak, duet, sambil ngeroko asyik nih”? Saya memintanya sekali lagi untuk bernyanyi. Dan bernyanyilah kita dengan riang ;

Where did we come from?
null, Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond

And what lay before? Is anything certain in life? They say, “Life is too short” Have I lived before,

“The here and the now” And “You’re only given one shot” But could there be more, Or could this be all that we’ve got?


If I die tomorrow, I’d be all right, Because I believe, That after we’re gone, The spirit carries on

I used to be frightened of dying, I used to think death was the end, But that was beforeI’m not scared anymore

Saya berhenti menyanyikannya, karena telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari dirinya yang dianggap gila, ternyata orang gila lebih sufistik dari orang waras yang dihantui rasa takut. Hehehe.

Langit menunjukan kasihnya kepada bumi, sore ini. Jatuhlah tangan-tangan hujan menyentuh datar bumi, seperti yang ia lakukan setiap hari, ia lewat meraih tanganku, memberikan penyesalan dalam hatiku, kemudian ia berlalu tanpa ragu, begitupula para penghuni neraka, jika kulitnya terpanggang matang, maka akan kembali pula kulit-kulitnya, itulah suatu penderitaan. Orang-orang mati itu bukanlah sebagai tempat peristirahatan, tetapi kematian adalah kehidupannya.

Jangan dianggap bercanda!!! hihihi

nomina, 30 Mei 2020

IDEA

Rest In Peace



I N T U I S I

“Cinta adalah naluri sederhana yang tercipta dari sepasang jiwa yang rumit, sedangkan kecewa adalah kematian kesederhanaan keduanya”

Nomina

Ketika aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta, ketika aku jatuh cinta, pantang bagiku untuk jatuh cinta kepada lainnya.

“Inilah aku beginilah diriku, aku bukan putih apalagi hitam, akan tetapi abu-abu adalah jalan hidupku, aku cinta kehidupan tapi tak benci kematian”

Dorongan batin terjadi begitu saja, hatiku tak mampu berpaling dari wujudmu, sebuah kontemplasi sederhana yang saat itu datang kepadaku, kebulatan pikiran, keteguhan tekad serta keyakinan yang kuat menggiring opiniku untuk meminangmu, sebuah ijab kabul terucap dari kedua mulut beserta tangan ini, tanpa ragu, tanpa ada hasrat tercela yang datang dari keduanya (aku dan kamu), sah akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya.

Kita cukup lama bersama-sama dalam susah maupun senang, aku cukup yakin bisa melewati itu semua, bahkan dalam kondisi kantong krisis sekalipun aku berusaha menunaikan kewajiban itu, semata-mata agar kamu bisa hidup dalam relung batinku. Kau seperti bunga yang tumbuh di taman hati, kusirami setiap harinya dengan tetes-tetes cinta tanpa jeda.

Enam belas tahun memang cukup lama, aku pernah menyukai hal lainnya, akan tetapi aku tetap mempertahankan dirimu seutuhnya, bukan karena sebutuhnya. Aku sadar satu hal dalam kehidupan ini, jika ada kehidupan tentu akan ada kematian, saat semua orang menghakimi ketiadaanmu, seakan keyakinanku tumbuh semakin besar, bahwa kita akan tetap bersama untuk mengarungi hidup kembali, akan tetapi jika Tuhan berkata lain, kerelaan itu harus datang dari jiwaku.

Kekecewaan itu seperti gelombang yang muncul dari dasar-dasar hati, meluluhlantakkan istana yang megah dalam jiwa. Jika pertemuan kita adalah nasib maka perpisahan kita adalah takdir. Sebagai bukti kesetiaanku aku tak ingin secepatnya menemukan tambatan hati yang lain, namun apabila aku telah menemukan cinta yang lainnya, engkau jangan pernah meragukan kesetiaan itu. Al-fatihah.

Kuucapkan selamat tinggal untukmu, semoga kau tenang di alam sana (Almh Im3 -Lahir 2006- Wafat 2020)

Nomina, 28 Mei 2020

IDEA

Kafilah

“Memilih kelompok atau kafilah yang bisa mendekatkan dinding hatimu kepada-Nya”

Pict : Nomina Indonesia

Saat itu seorang Sabil sedang melintasi kota Maya, ia menyusuri jejak para pemanol. Matahari dengan pongah menganga di atas kepalanya, panasnya melobangi setiap jengkal tanah yang dipijak oleh kaki mereka, sampailah ia di puncak dahaga, laju air ludahnya terhenti di tengah-tengah kerongkongan, namun ia tetap saja menarik kakinya yang sudah tidak mampu ia pijakan, tibalah di satu rumah, ia melihat sekelompok kafilah sedang asik berkumpul sambil menikmati gelas piala.

Seseorang berkata padanya :

“Kemarilah, bergabunglah dengan kami sekalian, mari bersama-sama menikmati cita dalam gelas piala, kamu telah melewati perjalanan yang sangat jauh, pakaianmu yang robek, tubuhmu yang lusuh, serta keringat yang bercucuran dari tubuhmu menggambarkan itu” Seseorang berusaha meraihnya.

“Terima kasih kuucapkan karena sudi menerima aku yang sedang menapaki perjalanan” Dengan senang hati Sabil menerima tawarannya, lantas ia duduk di samping mereka.

Hari berlalu Sabil berbaur dengan para kafilah tesebut, setiap harinya ia lewatkan bersama mereka, sambil berharap hikmah datang setiap harinya, baginya lebih indah menyerap setetes hikmah dari pada memikul sekarung ilmu. Dawai suara alat musik mengalun, gaung pujian dalam lantunan suara musik dan nyanyian setiap harinya selalu terdengar, sehingga mereka larut dalam buaian kenikmatan, jika datang malam hari mereka senantiasa menyalakan api unggun dan tungku untuk di kelilingi oleh mereka, hingga tibalah suatu masa.

“Nikmatilah malam ini, kita akan bersuka cita dalam kehangatan, mari kita panjatkan hati kita, karena suara musik ini akan membuat kita sampai di puncak ketenangan” Sang kepala kafilah berkata di depan mereka.

“Ya, suara musik dan nyanyian ini akan sampai, namun sampailah kita pada Saqar” Sabil berkata pada dirinya sendiri.

Ia kembali duduk di samping mereka, dengan tak sengaja pakaian yang ia kenakan menyentuh pakaian mereka, kemudian Sabil berusaha menariknya.

“Kenapa kamu menarik pakaiannya, pakaianku tidak kotor? Salah satu orang bertanya kepada Sabil

“Tidak tuan, justru pakaianku yang kotor, aku takut mengotori pakaian milik tuan, maka aku menariknya” Sabil berusaha untuk menjawab pertanyaannya. Kemudian Sabil membuka bajunya, lalu membakarnya dalam tungku, berkobarlah api tersebut, Sabil bertelanjang dada dan tetap duduk di samping mereka.

“Tuan yang terhormat, sekarang aku tidak mengenakan baju dan tubuhku yang kurus, kering dan kotor terlihat, aku tidak pantas untuk bersama-sama kalian, aku takut mengotori pakaian tuan-tuan, aku hendak pamit, untuk melanjutkan perjalanan” Sabil beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa kamu pergi, hai Bani Adam?” Kepala kafilah bertanya kepada Sabil.

“Aku tak memakai pakaian, ijinkan aku untuk mencari sehelai kain agar aku bisa menutupi tubuhku yang kotor” Sabil kemudian berjalan beberapa langkah.

“Tidakkah kau tau, di sini tersedia pakaian yang bagus dan layak kau pakai” Seseorang mencoba menahannya.

“Saya tahu tuan, tapi pakaian milik tuan terlalu bagus untuk ku kenakan, permisi saya pamit untuk melanjutkan perjalanan” Sabil kemudian melanjutkan langkahnya.

THE END

(Nomina, Mei 2020)

IDEA

Dua Bait Sya’ir dari Ibn Al-Dahlan

Janganlah engkau mengira buku-buku akan membantumu, jangan pikir dengan membacanya akan seperti kami
Karena ayam pun memiliki sayap-sayap yang berbulu, tapi dengan bulu-bulunya itu, ia tak dapat terbang tinggi [ Ibnu Al-Dahlan ]

Selamat Hari Buku Nasional | Nomina, 2020