Dan Bagaimana?

Bagaimana aku bisa menggambarkan keagungan-Nya, sedangkan yang ada dalam pikiran-pikiran manusia adalah hal-hal baru

Bagaimana aku memberitahukan kehadiran-Nya, sebab Ia datang tanpa berpindah dan pergi tanpa berbalik

Bagaimana aku mampu merangkum eksistensi-Nya, karena wujud-Nya tidak ditemui dengan kata ada dan tidak hilang oleh kata tiada

Rasakan!

Nomina, Rajab 1425 H

Sandekala


Seorang gembala menyadari hal-hal yang diberlakukan atasnya – upah dan jasa yang sangat sedikit dan besar resiko peliharaannya diganggu sekelompok hewan buas, tak jarang habis dimangsa. Namun seorang gembala menyadari dirinya harus dengan sukarela mengurusi ternaknya, yang paling penting dari seorang gembala adalah menjaga asa agar tugasnya selalu dilakukan dengan sukacita juga dilandasi kegembiraan.

Sang gembala tahu diri, kapan ia harus turun dari bukit yang tinggi, melewati lembah curam hanya untuk sampai di sabana, menyeberangi hijau raya – berkah hidup yang di karuniakan. Gembala tahu persis waktu untuk berpindah tempat dari tempat satu ke tempat lainnya, guna menyiasati tumbuh kembang pakan rumput agar tersedia setiap harinya.

S A N D É K A L A

Angin menyerahkan dirinya kepada senja, Memerintah pucuk-pucuk menguning itu, menari di pelupuk

Batangnya mencakar langit, Merobek Mega penuh warna

Terbukalah pintu malam yang lebar, tanpa menilai kecemburuan

Siang bukanlah seorang jalang, meski mengencani matahari sejak pagi

Sandekala datang menjelma, berpamitan pada jejaknya

(Nomina, Juli 2020)

Makrokosmos

Malam ini Tuhan sedang melucuti cahaya langit, sepuluh hari menuju perubahan musim membuat dadaku berdetak kencang, bulan yang kukagumi tengah bersembunyi di balik tanggal tua – menuju pergantian. Sejak kecil sudah menjadi topik hangat, sekelumit pertanyaan saling berkejaran di kepala, ia selalu menebar senyum tepat waktu pada tanggal lima belas di tahun Hijriyah setiap bulannya.

Mataku berkelana mengawasi gerak-gerik malam yang selalu komitmen mengenakan gaun gelap – pekat. Sementara rintik di bulan Juni masih menunggu jatah untuk turun ke bumi, bintik-bintik kecil yang menjadi pelipur lara menguasai langit, kerap menunjukan eksistensinya. Tak ada suara knalpot atau kegaduhan lainnya, demikianlah hidup di perkampungan, senyap. Meski waktu masih menunjukan pukul delapan malam, orang-orang sekitar sudah merangkai mimpi di atas ranjang tidurnya, hanya ada bunyi air yang jatuh ke permukaan kolam. Kilatan-kilatan cahaya semakin tegas memanjakan mata, lekas ku kemas apa-apa yang nampak dalam pikiran hingga terbit menjadi sepotong puisi yang urung tuntas :


KELEDAI JANTAN

Hatiku yatim
Tubuhku sahaya
Kembali

Di Kampung kecilku
Roh tertinggal
Asing

…..


(Nomina, 17 Juni 2020)