Metafora Musim Gugur

“Yang terlontar dari mulut awan dan bibir langit adalah kebat angin dan rintik hujan”

Nomina
Fixel

Musim panas yang terik akhirnya mereda, sayapnya mengiris udara di bawah langit itu menjadi gumpalan mega. “Apakah itu bintang Virgo yang dinantikan para peramal tua?” Aku ingin mengajakmu ke sana, melihat dengan tegas susunannya atau sekedar berdiri di atas tumpuan emas dan batu-batu giok yang sangat megah. Akan kutunjukan adanya sebentuk perhatian, kemurahan hati, kelembutan dan semangat juang. Gambar yang diukir sepenuhnya oleh batu arcana, batu berwarna cemerlang yang dengan cerdik menyembunyikan melankolisnya musim gugur, dan saat jemariku menunjuk gugusan bintang-bintang itu, mari ucapakan selamat tinggal padanya untuk membuka bulan baru dengan penuh keharmonisan.

Meski ada dinding tebal yang menutupi permukaan mata akan tetapi raut wajahmu tetap menyilaukan pandangan. Bunga Kartika yang masih ranum membuka kuncupnya ke atas langit bergerak bebas tanpa ada belenggu ragu yang mengikat satu helai pun pada tubuhnya. Angin yang meliuk dari utara menggoyangkan tangkainya, tanpa ia sadari sebuah takdir dari atas langit yang tinggi turun bersama daun-daun jatuh dengan kerelaannya ia melepaskan tubuh dan jiwanya terdampar di atas tanah hitam, tapi dengan cepat tanah memeluknya agar gemilang warnamu tetap terjaga. “Bukankah tubuhku dan sebagian tubuhmu adalah hal yang serupa?”

Kartika aku ingin mengatakan satu hal kepadamu bahwa aku sedang berdiri di depan sebuah gedung suci, namun makhluk ganas berjubah dengan pedang di tangan kanannya dan tameng di tangan kirinya sedang berusaha menghalauku. Sudah berulangkali kukatakan kepadanya, aku hanya ingin melantunkan pujian berserta doa-doa yang membasuh tubuhku sehingga jiwaku menjadi dingin dan diam. “Apakah ia dilahirkan dari keserakahan?” Sebuah awal seperti air tenang di atas sungai kegembiraan, atau ibarat rumput yang memagari kedua sisi jalan kehidupan, indah tertiup sepoi, lalu waktu mengubahnya menjadi gelombang badai yang disertai petir.

Mawar hitam tumbuh dengan cepat menjadi epidemi, tanah hijau berubah menjadi ladang-ladang kegelisahan. Kartika adalah lambang terkasih putri tunggal yang menjadi tulang punggung keluarganya. Bertahun-tahun tangannya menggeluti pengetahuan ajaib dan mencoba membantu peramu lainnya agar tanaman menjadi tumbuh dengan tangkap dan cerdas. Ia menghabiskan sebagian besar waktunya dalam keadaan resah beserta orang-orang yang bertujuan sama. Akan tetapi mereka menyadari bahwa mistiknya telah diplintir dan dibalik menjadi bagian pemusnahan dan kebinasaan. Keluarlah dari bilik-bilik kecanggungan, kemudian masuk kembali ke dalam lumbung kebahagiaan karena sesungguhnya tidak ada yang mampu menekuk hukum alam, dan sebentar lagi penegak hukum terakhir akan datang dengan komando yang kuat.

Nomina, 2020