Tashdiq

Ada yang datang dengan sangat kuat. Tak kasat

Dari debar jantung, bergetar setiap sisi, menggugurkan kekhawatiran dari kalbunya.

Terkadang penuh dan sesak, terhamparkan dirinya, dalam ruang fana’

Tak bosan meminumnya, tak kalah peneguknya

Mabuk dalam keabadian, ketika tiba padanya, bugarlah peneguknya

Nomina, Jumadil Ula 1425 H

Al-Ma’arif

Jutaan kepala yang menghadap ke dinding langit, dari sebagiannya menunggu satu kenyataan. Dinding yang tebal, tertutup rhadail-rhadail, hubbul jah, hubbul maal dan hubbus syahawat. Jutaan pasang mata menatap pintu langit, pintu yang terkunci rapat, tak terdapat satupun celah kosong di dalamnya, kuncinya hanya lisan, jinan, dan arkan. Kepala yang dipenuhi tanya, seberapa keras akan didengar oleh telinga, suara yang sepatutnya terdengar oleh tetes qadar dan sama‘. Suara itu yang mengirimkan debu-debu pekat, debu yang menutupi pandangan, menutupi rasa, menutupi langkah-langkah sekawanan Bani Adam.

***

Al-Maarif bersimpuh di tajuk sunyi nan kosong, ruang penuh debu, usang, berhari-hari, bahkan menuju windu. Sungguh di hati itu tak lagi terpatri bagaimana dahsyatnya suara Aamiin menjadi Amiin, Aamiin menjadi Aamin, di sikap itu tak lagi tertunai Salaam menjadi Salim, Salaam, menjadi Salaamatan, di pikiran itu tak lagi dicerna Shaf menjadi Shaufa, Shaf menjadi Suhuufakum.

Nomina, 13 Romadhon 1441 H

Nafs

Berhentilah diri! Berhenti dari pengaturan-pengaturan akal ; pengaturan selain Tuhan, karena Ia telah menerapkan aturan-aturan dalam tubuh, jiwa, dan ruhani. Jangan berpikir bahwa akal sebuah tiara di atas kepala yang penuh kemewahan semata, ia hanya diam dalam singgasana nafsu yang mengarahkan tubuh pada Wujud Zalal (wujud fana), duduklah dalam tahta “Sudhur” kesuciannya tak akan pernah pudar, sekalipun tubuh-tubuh itu jatuh pada kubangan lumpur-lumpur kenistaan, hati tetaplah hati, keyakinan tetaplah keyakinan yang tak bisa dibohongi, hati senantiasa membawamu pada ikatan suci.

Jangan kau campuri urusan diri! sesungguhnya Ia yang berhak mengurusi diri. Betapa angkuhnya jiwa-jiwa yang lupa, ketika pagi datang mengintip dari tirai malam ; tirai yang selalu gegap dengan gelap, ditaburi oleh dingin sekeliling alam perasaan, kedua mata yang terbuka seakan menutup ribuan bahkan jutaan pintu hati dari nikmat sang penguasa (Rabb). Hangat peluk sinar mentari yang datang dari ufuk langit, cahaya yang selalu diakui kenyataannya, namun sesungguhnya sumber kehidupan nyata adalah Nur Illahi. Hirupan udara adalah oksigen yang membaur dalam tubuh, rejeki yang kita nikmati tak datang dari kesepuluh jarimu, tapi ia datang dari sebuah kemurahan-Nya. Jantung laksana pompa yang mengalirkan darah melalui liku urat yang melilit dalam tubuh, daging dan tulang, maka semakin diri hanyut dalam arus pikiran akal, semakin diri dan jiwa menjauh dari cahaya-Nya.

Beristirahatlah dari pengakuan-pengakuan amal (gerak, bekerja, aktivitas duniawi, ukhrowi yang diakui oleh diri) tanpa-Nya tubuh-tubuh itu tak akan mampu beramal, “Lahaulaa Walaa kuwwata Illaa Billah” bukankah itu sebuah Ikrar yang telah kita ucapkan saat pertama kali kita mengenal-Nya?

Begitulah ruang lingkup seorang hamba yang wajib diketahui oleh hambanya.

***

Nomina, 3 Mei 2020