PUISI

Si Fulan dan Hukum Waktu

Paduka agung berkata padaku, pada pepatah serupa titah, laksana nasihat pun secarik wasiat ; Aku telah menyemai benih emas di ladang hening, pada tandusnya lahan pikiran, saat bagan tubuh terasa layu di ranjang malam

Andaikata kau menyelami laut sunyiku, maka kau akan jelajahi daratku, jika kau kuasai gelapku, maka kuberikan cahaya padamu, apabila kau melangkah dalam pagiku, niscaya kuarahkan senjamu

Aku berbisik padanya ;

Aku bagaikan daging yang disayat oleh waktu, sentuhannya sangatlah halus, tak ada yang mampu mencegah tajamnya, bilamana aku mengasari, tergoreslah aku

(Nomina, Mei 2020)

PUISI

Selamat Jalan Bulan

Setelah tampak cahaya malam, sepasang kata berdiri di pintu Maghrib, memutus dirimu dari takut, gelisah, dan kebimbangan, asap wujudnya terkepul di dada.

Akan tetapi cahaya siangnya masih terjaga disemai perbincangan, sampai pasukan-pasukan malam menyerang dengan genderang.

Mereka di antara pasukan Ruh dan Nuh, karena mereka berada di antara “Kasyaf” dan “Sitr”

Sedangkan malam mengandung kita, dibalut dingin yang mencekam, menunggu subuh, basuhlah lidah, akal, dan jiwa dengan derai takbir.

Makna hakikat datang dengan perbendaharaan kata-kata, datang kepada hati yang remuk, luluh lantak, pecah berkeping, berbeda-beda kedisiplinannya.

Ketika kehilangan jejak, tidak sedikitpun membekas, seperti kilatan di lengkung mega malam nan kelabu, di dinding langit yang sesak dengan gemintang, lenyap dalam keabadian

Andai pula ia meninggalkan bekas, tentang kepergian waktunya, yang ada tinggal dukanya, jika kebat cahayanya sangatlah asing, kita akan berada bersama luapannya, hidup dalam sorotan berkatnya.

Dan, pada hamparan kedua kalinya, semua memenuhi harap, menunggu cahaya itu kembali, dalam damai, dalam keseragaman

Kita akan berpisah setahun, sekembalinya diriku, biarkan aku memelukmu, “Salam-Mu” memelukku, memeluk mereka, memeluk keterasingan

Nomina, 1 Syawal 1441 H

PUISI

Berjela

Berjela nasib yang tak berujung, menyelami redup cahaya, siang adalah sang surya, menembus pori, malam adalah bulan dan bintang

Terangnya membasuh punggung petualang, gelapnya mengubur akar-akar keteguhan

Seorang gadis mengintip di balik jendela kamar, menunggu kisah, menyambut kasih, jejaka duduk di depan mihrab, menegur dinding hati yang rapuh

Nomina, 6 Mei 2020

PUISI

Buah Hati

Ia adalah buah yang jatuh dari pohon langit, tumbuh sekali seumur hidup, bersemayam dalam taman pikiran,

Seandainya sungai tak memeluk dengan arusnya, ia akan jatuh ke tanah itu, menjadi banjir bandang

Terkubur jasadnya, lalu tumbuh rimbun memayungi pelancong dari sengat matahari siang ini.

Nomina | Buku Puisi Catatan Amal Sholeh | 2004