Kuburan Jiwa

Kelopak mataku mulai sempit, menyempitkan gemilang nur yang tertutup kufur, telingaku hilang ngiangnya, dikubur gaung suara nafsu, lenyap dijejal gempita dunia 

Hatiku tak lagi luas padaku, pada nurani, pada ketundukan ambisi, lupa fitrah illahi, sulit membuka warna-warna nyata dalam fana, terpedaya oleh tipu daya

Aku ingin si Raqib senantiasa menjaga getar hatiku, sedangkan yang lainnya menjaga ucapan dan pandanganku, jangan biarkan lalu lalang pada selayang pandang mataku, buramkan cahaya-Mu, Engkau benar melihatku

Jika tubuhku adalah gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya, ingin ku tanami bibit mutiara dari bumi emas, lalu tumbuh kembali intan permata dalam dekap jiwa

Akan tetapi jasadku adalah bejana yang disentuh oleh bibir setan, hilang gemilangnya, keruh warnanya, ijinkan aku merobek, membelah, memecah hingga tak tersisa tetes dalam kepingnya.

(Nomina, 29 Ramadhan 1441 H)

Kafilah

“Memilih kelompok atau kafilah yang bisa mendekatkan dinding hatimu kepada-Nya”

Pict : Nomina Indonesia

Saat itu seorang Sabil sedang melintasi kota Maya, ia menyusuri jejak para pemanol. Matahari dengan pongah menganga di atas kepalanya, panasnya melobangi setiap jengkal tanah yang dipijak oleh kaki mereka, sampailah ia di puncak dahaga, laju air ludahnya terhenti di tengah-tengah kerongkongan, namun ia tetap saja menarik kakinya yang sudah tidak mampu ia pijakan, tibalah di satu rumah, ia melihat sekelompok kafilah sedang asik berkumpul sambil menikmati gelas piala.

Seseorang berkata padanya :

“Kemarilah, bergabunglah dengan kami sekalian, mari bersama-sama menikmati cita dalam gelas piala, kamu telah melewati perjalanan yang sangat jauh, pakaianmu yang robek, tubuhmu yang lusuh, serta keringat yang bercucuran dari tubuhmu menggambarkan itu” Seseorang berusaha meraihnya.

“Terima kasih kuucapkan karena sudi menerima aku yang sedang menapaki perjalanan” Dengan senang hati Sabil menerima tawarannya, lantas ia duduk di samping mereka.

Hari berlalu Sabil berbaur dengan para kafilah tesebut, setiap harinya ia lewatkan bersama mereka, sambil berharap hikmah datang setiap harinya, baginya lebih indah menyerap setetes hikmah dari pada memikul sekarung ilmu. Dawai suara alat musik mengalun, gaung pujian dalam lantunan suara musik dan nyanyian setiap harinya selalu terdengar, sehingga mereka larut dalam buaian kenikmatan, jika datang malam hari mereka senantiasa menyalakan api unggun dan tungku untuk di kelilingi oleh mereka, hingga tibalah suatu masa.

“Nikmatilah malam ini, kita akan bersuka cita dalam kehangatan, mari kita panjatkan hati kita, karena suara musik ini akan membuat kita sampai di puncak ketenangan” Sang kepala kafilah berkata di depan mereka.

“Ya, suara musik dan nyanyian ini akan sampai, namun sampailah kita pada Saqar” Sabil berkata pada dirinya sendiri.

Ia kembali duduk di samping mereka, dengan tak sengaja pakaian yang ia kenakan menyentuh pakaian mereka, kemudian Sabil berusaha menariknya.

“Kenapa kamu menarik pakaiannya, pakaianku tidak kotor? Salah satu orang bertanya kepada Sabil

“Tidak tuan, justru pakaianku yang kotor, aku takut mengotori pakaian milik tuan, maka aku menariknya” Sabil berusaha untuk menjawab pertanyaannya. Kemudian Sabil membuka bajunya, lalu membakarnya dalam tungku, berkobarlah api tersebut, Sabil bertelanjang dada dan tetap duduk di samping mereka.

“Tuan yang terhormat, sekarang aku tidak mengenakan baju dan tubuhku yang kurus, kering dan kotor terlihat, aku tidak pantas untuk bersama-sama kalian, aku takut mengotori pakaian tuan-tuan, aku hendak pamit, untuk melanjutkan perjalanan” Sabil beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa kamu pergi, hai Bani Adam?” Kepala kafilah bertanya kepada Sabil.

“Aku tak memakai pakaian, ijinkan aku untuk mencari sehelai kain agar aku bisa menutupi tubuhku yang kotor” Sabil kemudian berjalan beberapa langkah.

“Tidakkah kau tau, di sini tersedia pakaian yang bagus dan layak kau pakai” Seseorang mencoba menahannya.

“Saya tahu tuan, tapi pakaian milik tuan terlalu bagus untuk ku kenakan, permisi saya pamit untuk melanjutkan perjalanan” Sabil kemudian melanjutkan langkahnya.

THE END

(Nomina, Mei 2020)

Anasir

“Sebuah matlamat manusia (makhluk) kerdil nan angkuh yang akan terbaring dalam pusara kubur”

Nomina

“Aku menjelajahi bahtera damai dalam sampan, berharap di tepi sampai”- Agenda 707-

Apabila malam jatuh kepadaku, tidak ada hal lain yang kulakukan adalah aku mencoba menaiki sebuah sampan kecil dengan dua dayung di tanganku, kuarungi samudera gelap, terang, sunyi, dan suara. Gelap adalah muasal hilangnya makna pada sepasang mata dan hati (Ainal Bashirot – Bashiratul Ain) sebelum cahaya tercipta di hari itu ; hari yang telah ditentukan wujudnya, kucoba menutup mata. Terang cahaya adalah benderang dalam pelupuk, menerangi gelap semesta yang terhalang oleh kedip, kemudian aku membuka mata. Sunyi adalah pemberhentian gerak semesta dalam jirim (batang tubuh) alam dan makhluk yang senantiasa, berubah pola, berubah arah, berubah pemikiran (Tagoyur-berubah) mutlak, semua itu bukti terpeliharanya sebuah takdir. Suara adalah wujud dalam bentuk lain dari gerak dzat tanpa rupa, tanpa warna, perjalanan Wujud Akli dan Wujud Hisi. Did Lughawi dan Naqid Istilahi, dua perkara yang mustahil berada dalam satu titik, ada gelap, tidak akan ada terang, ada sunyi, pasti ada suara, adanya gerak, maka tidak akan ada pula diam.

Empat ribu tahun setelah terciptanya cahaya itu kemudian Ia ciptakan pula sebentuk alam (Arasy) yang meliputi alam lainnya, dikatakanlah dalam sepenggal ayat “Kun Fayakun” terbentuklah penciptaan kedua, tidak ada keharusan manusia selain memikirkan sesuatu yang harusnya dipikirkan pertama kali adalah mengetahui awal diri kita sebagai manusia – Man arofa nafsahu fakod arofa robbahu- “barang siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya” namun, tebalnya dinding dunia (fana) membutakan semua.

Aku menguliti setiap jengkal tubuh, setiap tetes darah, setiap hembus nafas, setiap detak jantung, setiapnya adalah tanah, air, api dan udara yang terbentuk dalam Maqom Jama’. Proses panjang dan perjalanan yang lekang saat aku berada dalam rahim sang ibu, rahim yang diciptakan sebagai alam tempat tinggalku dahulu kala. Kerasnya dunia ini serupa debur ombak di atas puncak samudera, badai menggoyangkan sampan, topan mengubah haluan perjalanan, bertahan atau tenggelam bagaimana kokohnya kedua tangan menggenggam kedua dayung itu, sampai atau tidak ke tepian tergantung seberapa benar kompas hidup kita.

(Nomina, 24 Ramadhan 1441 H)

Nafs

Berhentilah diri! Berhenti dari pengaturan-pengaturan akal ; pengaturan selain Tuhan, karena Ia telah menerapkan aturan-aturan dalam tubuh, jiwa, dan ruhani. Jangan berpikir bahwa akal sebuah tiara di atas kepala yang penuh kemewahan semata, ia hanya diam dalam singgasana nafsu yang mengarahkan tubuh pada Wujud Zalal (wujud fana), duduklah dalam tahta “Sudhur” kesuciannya tak akan pernah pudar, sekalipun tubuh-tubuh itu jatuh pada kubangan lumpur-lumpur kenistaan, hati tetaplah hati, keyakinan tetaplah keyakinan yang tak bisa dibohongi, hati senantiasa membawamu pada ikatan suci.

Jangan kau campuri urusan diri! sesungguhnya Ia yang berhak mengurusi diri. Betapa angkuhnya jiwa-jiwa yang lupa, ketika pagi datang mengintip dari tirai malam ; tirai yang selalu gegap dengan gelap, ditaburi oleh dingin sekeliling alam perasaan, kedua mata yang terbuka seakan menutup ribuan bahkan jutaan pintu hati dari nikmat sang penguasa (Rabb). Hangat peluk sinar mentari yang datang dari ufuk langit, cahaya yang selalu diakui kenyataannya, namun sesungguhnya sumber kehidupan nyata adalah Nur Illahi. Hirupan udara adalah oksigen yang membaur dalam tubuh, rejeki yang kita nikmati tak datang dari kesepuluh jarimu, tapi ia datang dari sebuah kemurahan-Nya. Jantung laksana pompa yang mengalirkan darah melalui liku urat yang melilit dalam tubuh, daging dan tulang, maka semakin diri hanyut dalam arus pikiran akal, semakin diri dan jiwa menjauh dari cahaya-Nya.

Beristirahatlah dari pengakuan-pengakuan amal (gerak, bekerja, aktivitas duniawi, ukhrowi yang diakui oleh diri) tanpa-Nya tubuh-tubuh itu tak akan mampu beramal, “Lahaulaa Walaa kuwwata Illaa Billah” bukankah itu sebuah Ikrar yang telah kita ucapkan saat pertama kali kita mengenal-Nya?

Begitulah ruang lingkup seorang hamba yang wajib diketahui oleh hambanya.

***

Nomina, 3 Mei 2020