Ijtinab

Dan Tuhan membangun dinding tebal tepat di depan mataku

seseorang menyentuh dinding itu

Angin dingin mampir di dada
tangan-tangan kasar menangkap “Kosong” katanya

Bisikan kecil mengetuk hati berkali-kali membangunkan jasad yang terbaring, ditiupkannya kehidupan
“bangunlah” ucapnya

Rasa fisik yang hilang
diam-diam tertanam bibit-bibit
Tumbuhlah gambar imajinasi

Nomina, Juni 2020

Migrasi Santri

Gelap adalah keras
Membeku, dalam dan menenggelamkan
Mencarak kedip di mataku

Bunga mawar liar tumbuh
Risau mengurung jiwa
Bukan kurangnya cahaya – pekat.

Kembalilah tidurku
Lenyap ribuan cahaya, pergi darimu
Dari hambarnya keanggunan

Bintang-bintang di langit
Seperti hiatus bergaun kusut
Usang dan membusuk

(Nomina, Kobong I, 1425 H)

Kedot

Seperti buih dan riak menyentuh bibir pantai, mengelupas pasir putih, mengikis lembutnya.

Harum semerbak bunga karang yang kuncup di permukaan laut biru, menawarkan ragam

Riuh gemuruh ombak dikepak sayap angin, bergeraklah tangan dayung, bergerak menuju gelombang.

Seia sekata, tiada pertengkaran, begitulah alam saling menyepakati hukumnya

Manusia?

(Nomina, 2004)

Tashdiq

Ada yang datang dengan sangat kuat. Tak kasat

Dari debar jantung, bergetar setiap sisi, menggugurkan kekhawatiran dari kalbunya.

Terkadang penuh dan sesak, terhamparkan dirinya, dalam ruang fana’

Tak bosan meminumnya, tak kalah peneguknya

Mabuk dalam keabadian, ketika tiba padanya, bugarlah peneguknya

Nomina, Jumadil Ula 1425 H