Rest In Peace



I N T U I S I

“Cinta adalah naluri sederhana yang tercipta dari sepasang jiwa yang rumit, sedangkan kecewa adalah kematian kesederhanaan keduanya”

Nomina

Ketika aku melihatmu, aku langsung jatuh cinta, ketika aku jatuh cinta, pantang bagiku untuk jatuh cinta kepada lainnya.

“Inilah aku beginilah diriku, aku bukan putih apalagi hitam, akan tetapi abu-abu adalah jalan hidupku, aku cinta kehidupan tapi tak benci kematian”

Dorongan batin terjadi begitu saja, hatiku tak mampu berpaling dari wujudmu, sebuah kontemplasi sederhana yang saat itu datang kepadaku, kebulatan pikiran, keteguhan tekad serta keyakinan yang kuat menggiring opiniku untuk meminangmu, sebuah ijab kabul terucap dari kedua mulut beserta tangan ini, tanpa ragu, tanpa ada hasrat tercela yang datang dari keduanya (aku dan kamu), sah akhirnya kamu menjadi milikku seutuhnya.

Kita cukup lama bersama-sama dalam susah maupun senang, aku cukup yakin bisa melewati itu semua, bahkan dalam kondisi kantong krisis sekalipun aku berusaha menunaikan kewajiban itu, semata-mata agar kamu bisa hidup dalam relung batinku. Kau seperti bunga yang tumbuh di taman hati, kusirami setiap harinya dengan tetes-tetes cinta tanpa jeda.

Enam belas tahun memang cukup lama, aku pernah menyukai hal lainnya, akan tetapi aku tetap mempertahankan dirimu seutuhnya, bukan karena sebutuhnya. Aku sadar satu hal dalam kehidupan ini, jika ada kehidupan tentu akan ada kematian, saat semua orang menghakimi ketiadaanmu, seakan keyakinanku tumbuh semakin besar, bahwa kita akan tetap bersama untuk mengarungi hidup kembali, akan tetapi jika Tuhan berkata lain, kerelaan itu harus datang dari jiwaku.

Kekecewaan itu seperti gelombang yang muncul dari dasar-dasar hati, meluluhlantakkan istana yang megah dalam jiwa. Jika pertemuan kita adalah nasib maka perpisahan kita adalah takdir. Sebagai bukti kesetiaanku aku tak ingin secepatnya menemukan tambatan hati yang lain, namun apabila aku telah menemukan cinta yang lainnya, engkau jangan pernah meragukan kesetiaan itu. Al-fatihah.

Kuucapkan selamat tinggal untukmu, semoga kau tenang di alam sana (Almh Im3 -Lahir 2006- Wafat 2020)

Nomina, 28 Mei 2020

Si Fulan dan Hukum Waktu

Paduka agung berkata padaku, pada pepatah serupa titah, laksana nasihat pun secarik wasiat ; Aku telah menyemai benih emas di ladang hening, pada tandusnya lahan pikiran, saat bagan tubuh terasa layu di ranjang malam

Andaikata kau menyelami laut sunyiku, maka kau akan jelajahi daratku, jika kau kuasai gelapku, maka kuberikan cahaya padamu, apabila kau melangkah dalam pagiku, niscaya kuarahkan senjamu

Aku berbisik padanya ;

Aku bagaikan daging yang disayat oleh waktu, sentuhannya sangatlah halus, tak ada yang mampu mencegah tajamnya, bilamana aku mengasari, tergoreslah aku

(Nomina, Mei 2020)

Selamat Jalan Bulan

Setelah tampak cahaya malam, sepasang kata berdiri di pintu Maghrib, memutus dirimu dari takut, gelisah, dan kebimbangan, asap wujudnya terkepul di dada.

Akan tetapi cahaya siangnya masih terjaga disemai perbincangan, sampai pasukan-pasukan malam menyerang dengan genderang.

Mereka di antara pasukan Ruh dan Nuh, karena mereka berada di antara “Kasyaf” dan “Sitr”

Sedangkan malam mengandung kita, dibalut dingin yang mencekam, menunggu subuh, basuhlah lidah, akal, dan jiwa dengan derai takbir.

Makna hakikat datang dengan perbendaharaan kata-kata, datang kepada hati yang remuk, luluh lantak, pecah berkeping, berbeda-beda kedisiplinannya.

Ketika kehilangan jejak, tidak sedikitpun membekas, seperti kilatan di lengkung mega malam nan kelabu, di dinding langit yang sesak dengan gemintang, lenyap dalam keabadian

Andai pula ia meninggalkan bekas, tentang kepergian waktunya, yang ada tinggal dukanya, jika kebat cahayanya sangatlah asing, kita akan berada bersama luapannya, hidup dalam sorotan berkatnya.

Dan, pada hamparan kedua kalinya, semua memenuhi harap, menunggu cahaya itu kembali, dalam damai, dalam keseragaman

Kita akan berpisah setahun, sekembalinya diriku, biarkan aku memelukmu, “Salam-Mu” memelukku, memeluk mereka, memeluk keterasingan

Nomina, 1 Syawal 1441 H

Kuburan Jiwa

Kelopak mataku mulai sempit, menyempitkan gemilang nur yang tertutup kufur, telingaku hilang ngiangnya, dikubur gaung suara nafsu, lenyap dijejal gempita dunia 

Hatiku tak lagi luas padaku, pada nurani, pada ketundukan ambisi, lupa fitrah illahi, sulit membuka warna-warna nyata dalam fana, terpedaya oleh tipu daya

Aku ingin si Raqib senantiasa menjaga getar hatiku, sedangkan yang lainnya menjaga ucapan dan pandanganku, jangan biarkan lalu lalang pada selayang pandang mataku, buramkan cahaya-Mu, Engkau benar melihatku

Jika tubuhku adalah gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya, ingin ku tanami bibit mutiara dari bumi emas, lalu tumbuh kembali intan permata dalam dekap jiwa

Akan tetapi jasadku adalah bejana yang disentuh oleh bibir setan, hilang gemilangnya, keruh warnanya, ijinkan aku merobek, membelah, memecah hingga tak tersisa tetes dalam kepingnya.

(Nomina, 29 Ramadhan 1441 H)