Hujan Sore Ini

Dia dinamakan akal yang meliputi (akal universal) karena dia telah melihat dan mengenali segala-galanya. Dia dinamakan qalam karena dia menyebarkan hikmah dan ilmu dan dia mencurahkan ilmu ke dalam huruf-huruf.

Syarah Kitab Futuhul Ghaib

“THE COCOKOLOGI”

Saya berangkat pagi ini dengan membawa perbekalan secukupnya ; seperangkat alat sholat dibawa tunai dalam tas kecil dan tak lupa perbekalan lainnya yang menjadi kewajiban, lengkap dengan alat tulis ; buku agenda “Tarbiyah Jagad” sengaja saya beri nama itu, karena kebetulan cover depan bukunya bertuliskan “Agenda 707”, jika kalian ke warung ataupun toko buku mungkin kalian menemukan judul buku yang sama, entah sejak kapan buku itu muncul di pasaran, dulu namanya “Agenda Kerja”.

Saat pertama kali saya memilih buku “Agenda 707” saya bertanya-tanya, angka tujuh yang di apit angka nol membuat saya berpikir lebih dalam lagi, “Tujuh lapis cakrawala yang kita lihat setiap malam dengan hiasan bintang gemintang serta sinar cahaya berupa wujud bulan, dan di tengah-tengah nya, adalah kekosongan (ruang hampa) tentu tidak se-kosong yang dibayangkan, kemudian setelahnya tujuh lapis (punggung) bumi yang dipijak oleh kaki mungil berupa makhluk hidup.

Sudah enam belas tahun saya mengoleksi buku agenda 707 itu, kurang lebih setahun tiga sampai empat buku saya habiskan, tentunya sesuai kebutuhan materi yang ingin saya tulis. Tak lupa pula saya memilih pena mana yang mudah saya gunakan, tentunya saya memilih pena yang ringan, agar dapat meringankan isi kepala, mungkin banyak di luaran sana yang punya kesamaan dengan hobi saya, terkesan jadul sekali, tapi ini suatu alat refleksi diri bagi saya.

Hampir setiap harinya saya menitikkan tinta di atas kertas kosong itu, entah apa yang ingin saya curahkan di dalamnya, apabila tak menghasilkan kata-kata yang diinginkan saya merefleksikannya pada sebuah gambar ; hewan, bangunan, pohon, manusia, yang orang lainpun tak banyak yang memahaminya.

Dering suara handphone bersahutan, nada panggilan yang mengemas keresahan tak jua ku perhatikan “Hari ini saya Off dari hiruk-pikuk keseharian” dengan serba-serbi alasan yang saya anggap kurang jelas untuk dicerna lebih dalam. Sepertinya sudah satu pertiga kota ini dijelajahi tanpa kupikirkan sampai dimana berhenti roda dan kaki ini menyudahi perjalanan, berhentilah di sebuah konter HP, karena cuaca sudah mulai murung, saya tidak bisa melawannya. Saya duduk sambil meminta ijin untuk mengisi baterai HP yang mulai surut tenaganya.

“Kenapa dia bang?” Saya bertanya kepada si pemilik konter

“Jangan ditatap mukanya, biarkan saja, dia sedikit kurang sehat, nanti dia ngamuk!” Pemilik konter itu menjelaskan

Saya tidak merasa takut sekalipun, malah semakin penasaran dengannya, kuambil sebungkus roko dari tas kecil.

“Lagunya bagus bang, Dream Theater ya?” Saya memberanikan diri untuk bertanya.

“Ya Dream Theater” Sahutnya.

“Nyanyi sekali lagi boleh gak, duet, sambil ngeroko asyik nih”? Saya memintanya sekali lagi untuk bernyanyi. Dan bernyanyilah kita dengan riang ;

Where did we come from?
null, Why are we here? Where do we go when we die? What lies beyond

And what lay before? Is anything certain in life? They say, “Life is too short” Have I lived before,

“The here and the now” And “You’re only given one shot” But could there be more, Or could this be all that we’ve got?


If I die tomorrow, I’d be all right, Because I believe, That after we’re gone, The spirit carries on

I used to be frightened of dying, I used to think death was the end, But that was beforeI’m not scared anymore

Saya berhenti menyanyikannya, karena telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari dirinya yang dianggap gila, ternyata orang gila lebih sufistik dari orang waras yang dihantui rasa takut. Hehehe.

Langit menunjukan kasihnya kepada bumi, sore ini. Jatuhlah tangan-tangan hujan menyentuh datar bumi, seperti yang ia lakukan setiap hari, ia lewat meraih tanganku, memberikan penyesalan dalam hatiku, kemudian ia berlalu tanpa ragu, begitupula para penghuni neraka, jika kulitnya terpanggang matang, maka akan kembali pula kulit-kulitnya, itulah suatu penderitaan. Orang-orang mati itu bukanlah sebagai tempat peristirahatan, tetapi kematian adalah kehidupannya.

Jangan dianggap bercanda!!! hihihi

nomina, 30 Mei 2020