Migrasi Santri

Gelap adalah keras
Membeku, dalam dan menenggelamkan
Mencarak kedip di mataku

Bunga mawar liar tumbuh
Risau mengurung jiwa
Bukan kurangnya cahaya – pekat.

Kembalilah tidurku
Lenyap ribuan cahaya, pergi darimu
Dari hambarnya keanggunan

Bintang-bintang di langit
Seperti hiatus bergaun kusut
Usang dan membusuk

(Nomina, Kobong I, 1425 H)

Catatan Seorang Murid

Aku adalah seorang murid, selalu mengatakan itu. Berulang-ulang.

Kepada angin

Kepada hujan

Kepada semesta.

Kefakiran adalah hari raya bagiku, tidak ada kegembiran dalam catatanku, kelak lidahku kelu untuk mengucapkannya

Di hadapan guru

Di hadapan hakim

Di hadapan Tuhan

Malam adalah kita ; aku dan buku, di kedalaman sunyi, berhentilah suara, berhentilah angin

(Nomina, Ciluncat, 1424 H)