Siloka

Fixels

Penyair dari Nusa melenggang menyusuri lingkar alam, di seluruh negerinya kini dipenuhi kebisingan suara yang muncul dari langkah kaki dan sepatu orang-orang kota yang sedang melintasi pemukiman Sancakala.

Namun penyair bukanlah seorang yang lemah, ia luar biasa dengan berjuta keterampilan dan instrumentalnya ia mampu menggabungkan kata-kata menjadi sepasang petir yang menyambar pucuk-pucuk pohon, ia tak henti mencari seorang prajurit yang terkubur diantara dongeng orang-orang desa

Sekarang sudah mencapai malam, matahari tenggelam dengan perlahan seolah membuat langit cerah itu mengubahnya menjadi gelap, sang penyair memutuskan untuk menutup matanya di bawah pohon Argapura.

Nomina, Agustus 2020

Si Fulan dan Hukum Waktu

Paduka agung berkata padaku, pada pepatah serupa titah, laksana nasihat pun secarik wasiat ; Aku telah menyemai benih emas di ladang hening, pada tandusnya lahan pikiran, saat bagan tubuh terasa layu di ranjang malam

Andaikata kau menyelami laut sunyiku, maka kau akan jelajahi daratku, jika kau kuasai gelapku, maka kuberikan cahaya padamu, apabila kau melangkah dalam pagiku, niscaya kuarahkan senjamu

Aku berbisik padanya ;

Aku bagaikan daging yang disayat oleh waktu, sentuhannya sangatlah halus, tak ada yang mampu mencegah tajamnya, bilamana aku mengasari, tergoreslah aku

(Nomina, Mei 2020)