Siloka

Fixels

Penyair dari Nusa melenggang menyusuri lingkar alam, di seluruh negerinya kini dipenuhi kebisingan suara yang muncul dari langkah kaki dan sepatu orang-orang kota yang sedang melintasi pemukiman Sancakala.

Namun penyair bukanlah seorang yang lemah, ia luar biasa dengan berjuta keterampilan dan instrumentalnya ia mampu menggabungkan kata-kata menjadi sepasang petir yang menyambar pucuk-pucuk pohon, ia tak henti mencari seorang prajurit yang terkubur diantara dongeng orang-orang desa

Sekarang sudah mencapai malam, matahari tenggelam dengan perlahan seolah membuat langit cerah itu mengubahnya menjadi gelap, sang penyair memutuskan untuk menutup matanya di bawah pohon Argapura.

Nomina, Agustus 2020

Al-Ma’arif

Jutaan kepala yang menghadap ke dinding langit, dari sebagiannya menunggu satu kenyataan. Dinding yang tebal, tertutup rhadail-rhadail, hubbul jah, hubbul maal dan hubbus syahawat. Jutaan pasang mata menatap pintu langit, pintu yang terkunci rapat, tak terdapat satupun celah kosong di dalamnya, kuncinya hanya lisan, jinan, dan arkan. Kepala yang dipenuhi tanya, seberapa keras akan didengar oleh telinga, suara yang sepatutnya terdengar oleh tetes qadar dan sama‘. Suara itu yang mengirimkan debu-debu pekat, debu yang menutupi pandangan, menutupi rasa, menutupi langkah-langkah sekawanan Bani Adam.

***

Al-Maarif bersimpuh di tajuk sunyi nan kosong, ruang penuh debu, usang, berhari-hari, bahkan menuju windu. Sungguh di hati itu tak lagi terpatri bagaimana dahsyatnya suara Aamiin menjadi Amiin, Aamiin menjadi Aamin, di sikap itu tak lagi tertunai Salaam menjadi Salim, Salaam, menjadi Salaamatan, di pikiran itu tak lagi dicerna Shaf menjadi Shaufa, Shaf menjadi Suhuufakum.

Nomina, 13 Romadhon 1441 H

Genosida

Hari ini aku melihat;

Musisi jalanan, berebut isi perut, jentrang-jentreng di sudut komplek, merengek dengan suara bengek

Pedagang bangkrut, menunggu tamu datang mencari sandang, carut-marut dipaksa pulang

Tukang lektut, menari-nari di tong sampah, bertengkar dengan lalat yang sama resah

Tukang lektut, menari-nari di tong sampah, bertengkar dengan lalat yang sama resah

Buruh linglung, nasibnya di gantung, kepalanya nyaris terpancung, memikirkan keluarganya yang bingung

Manusia berselimut tebal, takut ajal menjemput, menghindari Sakaratul maut

Seorang lelaki yang putus asa, hatinya, di jarah calon mertua, menanti sepenggal doa

Nomina