PUISI

Membayar Lamunan


Pada suatu malam, aku tak melihat satupun rahasia dari kegelapan kecuali bintang yang berjalan lamban, seperti seorang perempuan yang duduk sambil menekuk senyumnya. Sehingga ketika malam itu menggelapkan kenyataan, aku adalah tamu, datang menuju cahaya bulan, warnanya keruh putih seperti bulu serigala

Aku meratapi duka lara serta payah di setiap kedip, aku menentang malam dengan kekerasan hati, aku memuji Tuhanku diantara malapetaka, lalu dukaku terbang dengan ringan melebihi angin. Selepas pagi, sinar matahari membungkuk, membangunkan masa mudaku menatap cermin di dinding, usia muda telah lewat, meluap sampai di leher dan uban yang tumbuh mengingatkanku dari mimpi-mimpi

Jaket tebal dengan uraian bulu lembut di leher, sorban melilit dan baju zirah bersiap melindungi kesepianku. Sifat jalang mata burung yang liar, Aku ingin duduk sebentar, diantara dua ujung sayap burung elang yang gugup menyambar merpati pada hari yang mendung. Ku bangun rumah di tanah kosong sunyi, senyap, gelap, hatiku terikat di keramaian, ku duduk seperti keledai hutan, tidak ada orang melewati, nihil suara kaki, air menyakitkan, rumput menjalar dari pori-pori bumi

Dan lagi, matahari membangun lamunan siang, terkunci nyanyian serangga hutan bersama pikiran yang datang dari ruas kayu seperti angin dan tornado

Kota Santri, 2021

Eh teman-teman, setelah selesai membabat habis rumput-rumput di pinggir kolam, rencananya akan ku tanami sayuran, cabai rawit, kuncai, kacang panjang, nanti aku kabari dadaaahhhh hehehe

IDEA

Siloka

Fixels

Penyair dari Nusa melenggang menyusuri lingkar alam, di seluruh negerinya kini dipenuhi kebisingan suara yang muncul dari langkah kaki dan sepatu orang-orang kota yang sedang melintasi pemukiman Sancakala.

Namun penyair bukanlah seorang yang lemah, ia luar biasa dengan berjuta keterampilan dan instrumentalnya ia mampu menggabungkan kata-kata menjadi sepasang petir yang menyambar pucuk-pucuk pohon, ia tak henti mencari seorang prajurit yang terkubur diantara dongeng orang-orang desa

Sekarang sudah mencapai malam, matahari tenggelam dengan perlahan seolah membuat langit cerah itu mengubahnya menjadi gelap, sang penyair memutuskan untuk menutup matanya di bawah pohon Argapura.

Nomina, Agustus 2020