
Seorang lelaki meringkas kabar
ia tahu Tuhan telah memuat banyak,
derajatnya seperti bertanya
melihat awan di atas kepala, menyisir gelap yang belum juga reda
gelisah bertunas, tunggu saja, katanya.
nomina, 2022
Kopi adalah jasad utuh yang diseduh
Pahit ada roh yang bersembunyi di balik beningnya gelas
Kepahitan yang dituangkan dari wadah keluguan tak mampu merampas martabatnya
segala cacian yang dilepaskan dari mulut keangkuhan tak bisa membinasaan harumnya
bibir adalah pendusta yang mencerca, tak puas menermia kadar hukum kodrat-Nya, lantas lupa hadrat-Nya
Jil isi kepala mengering, jiwa-jiwa melarat, pikiran mengemis inspirasi, meluapkan caci maki


Aku adalah air
mengalir dari bukit
meniti kulit bebatuan di lembah
mencari muara terdekat
menjadi danau tempat kau menghabiskan hari saat gelisah
Aku adalah malam gelapmengunci terang
menarik ekor cahaya yang lelah membasuh punggung tanah
menjadi wajah bulan yang pucat
Aku adalah suara hujanjatuh dari langit keruh
terbujur kaku di atap rumahmu
menitipkan rindu pada dingin
Nomina, 5 Januari 2021
mewakilkan hangat pada kekasihmu

Tentang hari ini
angin menjadi pandu
mengawal langkahku
berbicara dengan cara tua
mengungkapkan perasaan
Pikiran lahir di benak
menyusun warna-warna
membentuk kata
tertidur angan
mimpi tertahan
Meraih tangan
dalam genggaman lainnya
melangkahkan mimpi
di tengah dingin
bersama sepi

Engkau serupa dewi dalam pikiranku, bagaimana dapat ku hindari rupamu mu? sedangkan setiap hari jiwaku dibasuhi cahayamu
Engkau adalah pohon rindang di tengah gurun pasir, bagaimana aku menolak teduhmu? jika sengat matahari membakar tubuhku
Engkau adalah ibu dalam kamus lain, bagaimana aku menolak keberadaanmu? jika arti yang kucari itu ada padamu.
Tasikmalaya, Desember 2020


Tidurlah!
Tidurlah dengan nyenyak
Ranjang malam yang empuk
Selimut bulan nan lembut
Rintik dari ujung genting belum menyerah
Tutup matamu dengan rapat
Simpan kuncinya di dalam ingatan
Semesta sedang riuh
Petir mengincar yang lemah
Nomina, November 2020

Kita meliuk pada samudera yang sama
Digulung ombak dan badai
Terkadang diselimuti dingin dan sunyi
Tapi aku harus merangkak bersama harapan
Aku tahu tepi itu tidak mudah untuk dijangkau
Bahkan tangan dan kaki ini tak mampu menggapai
Kenapa hati dan hati dipisah?
Jarak dan waktu selalu membelah
Jika dua jiwa harus berpamitan
Pada sahut suara hujan
Yakinlah warna pelangi menyambut terang
Nomina, Nov 2020

/1/A Ba Ta,
Hujan kekasihku, aku memelukmu saat datang
Mesti kurasakan sayatanmu sore ini
Sesekali kuluangkan pikiran untuk menghitung
Jarak tempuh rintik dari cakrawala ke bumi gersang
Agar hatiku paham, biji-bijian di ladang kasih menumbuh
/2/
Ha wa ya,
Bunga hatiku menjadi kabut malam
Menyimpan gigil di tubuhku
Seumur hidup melobangi tebalnya tembok-tembok
Hanya ingin cahaya tembus ke generasi
Nomina, Oktober 2020

Oh,
Seolah-olah matahari sedang kelelahan, ia bersembunyi di puncak gunung. Warna merah keemasan menyusut, burung kecil mengikuti putaran cahaya
Masuklah ke sarang … masuklah dengan perlahan. Hari mulai berselimut gelap
Oh,
Malam yang cantik, engkau didandani bintang, langit pun berkerudung putih, sinar bulan yang mungil menyibak Mega
Sekelompok kunang-kunang dengan kerlipnya mengitari tubuhku
Oh,
Terangi jalanku! Hangati tubuhku!
Nomina
“… dan mula-mula aku menemukan bingkai foto yang pecah
Jatuh dari dinding hati, hancur seperti sisa-sisa pembakaran liar di tengah rimba
Asapnya mengepul di atas kepala, panasnya sampai ke dada”
Selamat jalan Pak!
nomina
Puisi adalah lukisan abstrak dalam hati penyair, diberi warna oleh kata-kata
Puisi adalah suara yang tak pernah tahu di mana asalnya, didengungkan oleh perasaan gelisah, rindu dan cinta
Puisi adalah definisi tegas yang tidak ada di kamus bahasa
Nomina
Pelita tak hanya tampak di malam hari
Ia terbit kapan saja
Setelah gugup
Manakala nalar tak lagi bisa menakar
Seperti huruf yang lahir dari ujung jari, dengan kata-kata
Kunyalakan
(nomina, 7 Juni 2020)