Kuburan Jiwa

Kelopak mataku mulai sempit, menyempitkan gemilang nur yang tertutup kufur, telingaku hilang ngiangnya, dikubur gaung suara nafsu, lenyap dijejal gempita dunia 

Hatiku tak lagi luas padaku, pada nurani, pada ketundukan ambisi, lupa fitrah illahi, sulit membuka warna-warna nyata dalam fana, terpedaya oleh tipu daya

Aku ingin si Raqib senantiasa menjaga getar hatiku, sedangkan yang lainnya menjaga ucapan dan pandanganku, jangan biarkan lalu lalang pada selayang pandang mataku, buramkan cahaya-Mu, Engkau benar melihatku

Jika tubuhku adalah gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya, ingin ku tanami bibit mutiara dari bumi emas, lalu tumbuh kembali intan permata dalam dekap jiwa

Akan tetapi jasadku adalah bejana yang disentuh oleh bibir setan, hilang gemilangnya, keruh warnanya, ijinkan aku merobek, membelah, memecah hingga tak tersisa tetes dalam kepingnya.

(Nomina, 29 Ramadhan 1441 H)

Selamat Berbuka Puisi

Seorang ibu melihat gempa di tubuh anaknya, bergetar. Menggemparkan dada yang sesak dengan Haq.

Deras mata air, terjun dari hutan lebat, rimbun penuh dengan mahkota ilmu. Kharisma dan wibawa.

Retak tuturan cakap keduanya menahan dahaga, sedangkan di balik perut adalah demonstrasi cacing menagih jatah perbekalan siang.

“Tahan Nak, sebentar lagi bedug tiba”

Puasa

Nomina, 9 Romadhon 1441