PUISI

Ketika Ingin Berlama-lama Memuji

Dokumentasi Pribadi

Ketika ingin berlama-lama memuji …

Ada dua kata yang bersikeras duduk di singgasana hatiku, adalah ; kecantikan dan keindahan

Ketika ingin berlama-lama memuji …

Pikiranku menemukan kebijaksanaan dan kearifan, kecantikan yang bias, keindahan yang abadi

Ketika ingin berlama-lama memuji …

Waktu telah pergi

Nomina,3 Maret 2020

NOTES

“Pesona Semampai”

Nomina

“Aku tertarik dengan pesona semampai seorang gadis, ia berjalan pelan seperti kerbau, dengan busana kebijaksanaan, mengubur senyumnya dalam-dalam, tapi dari kedua pipinya memancar sinar mengkilat seperti biji mutiara di tengah cahaya” – nomina-

30 Januari, 2021

PUISI

Hujan Tengah Malam

Aku adalah air

mengalir dari bukit

meniti kulit bebatuan di lembah

mencari muara terdekat

menjadi danau tempat kau menghabiskan hari saat gelisah


Aku adalah malam gelap

mengunci terang

menarik ekor cahaya yang lelah membasuh punggung tanah

menjadi wajah bulan yang pucat


Aku adalah suara hujan

jatuh dari langit keruh

terbujur kaku di atap rumahmu

menitipkan rindu pada dingin
mewakilkan hangat pada kekasihmu

Nomina, 5 Januari 2021
PUISI

Intuisi

Ada yang menempati hati tanpa unsur sengaja, usaha menarik, dan usaha mendorong

Usaha dari rasa senang atau sedih, leluasa atau tergenggam, rindu atau berontak, rasa takut atau suka cita

Setiap tingkah hati adalah karunia dan kedudukan adalah upaya.

Sesuatu yang menempati akan hilang

Bayangan tubuh sampai di ujung, berkurang saat memanjang.

Nomina
PUISI

Bandit

Kudatangi dua tempat kosong

Sunyi dan diam

Nasib pun berubah

Kehilangan ladang hijau, berganti dengan senjata dan reruntuhan

Rahasia dan objek besar jatuh dari langit, di jantung itulah semua tinggal antek-antek dunia yang haus darah.

Pada siapa mengenali, pada tuan mana yang pantas dilayani

Di lorong-lorong sempit ini,

Jalan bagi jiwa yang tersesat

Tidak ada aturan hukum

Tidak ada yang menjamin keselamatan diri

nomina
PUISI

Kuburan Jiwa

Kelopak mataku mulai sempit, menyempitkan gemilang nur yang tertutup kufur, telingaku hilang ngiangnya, dikubur gaung suara nafsu, lenyap dijejal gempita dunia 

Hatiku tak lagi luas padaku, pada nurani, pada ketundukan ambisi, lupa fitrah illahi, sulit membuka warna-warna nyata dalam fana, terpedaya oleh tipu daya

Aku ingin si Raqib senantiasa menjaga getar hatiku, sedangkan yang lainnya menjaga ucapan dan pandanganku, jangan biarkan lalu lalang pada selayang pandang mataku, buramkan cahaya-Mu, Engkau benar melihatku

Jika tubuhku adalah gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya, ingin ku tanami bibit mutiara dari bumi emas, lalu tumbuh kembali intan permata dalam dekap jiwa

Akan tetapi jasadku adalah bejana yang disentuh oleh bibir setan, hilang gemilangnya, keruh warnanya, ijinkan aku merobek, membelah, memecah hingga tak tersisa tetes dalam kepingnya.

(Nomina, 29 Ramadhan 1441 H)

PUISI

Selamat Berbuka Puisi

Seorang ibu melihat gempa di tubuh anaknya, bergetar. Menggemparkan dada yang sesak dengan Haq.

Deras mata air, terjun dari hutan lebat, rimbun penuh dengan mahkota ilmu. Kharisma dan wibawa.

Retak tuturan cakap keduanya menahan dahaga, sedangkan di balik perut adalah demonstrasi cacing menagih jatah perbekalan siang.

“Tahan Nak, sebentar lagi bedug tiba”

Puasa

Nomina, 9 Romadhon 1441