Malam ini Tuhan sedang melucuti cahaya langit, sepuluh hari menuju perubahan musim membuat dadaku berdetak kencang, bulan yang kukagumi tengah bersembunyi di balik tanggal tua – menuju pergantian. Sejak kecil sudah menjadi topik hangat, sekelumit pertanyaan saling berkejaran di kepala, ia selalu menebar senyum tepat waktu pada tanggal lima belas di tahun Hijriyah setiap bulannya.
Mataku berkelana mengawasi gerak-gerik malam yang selalu komitmen mengenakan gaun gelap – pekat. Sementara rintik di bulan Juni masih menunggu jatah untuk turun ke bumi, bintik-bintik kecil yang menjadi pelipur lara menguasai langit, kerap menunjukan eksistensinya. Tak ada suara knalpot atau kegaduhan lainnya, demikianlah hidup di perkampungan, senyap. Meski waktu masih menunjukan pukul delapan malam, orang-orang sekitar sudah merangkai mimpi di atas ranjang tidurnya, hanya ada bunyi air yang jatuh ke permukaan kolam. Kilatan-kilatan cahaya semakin tegas memanjakan mata, lekas ku kemas apa-apa yang nampak dalam pikiran hingga terbit menjadi sepotong puisi yang urung tuntas :
“Pengetahuan itu seperti tangan, ia bisa mengangkat bangunan tanpa tiang, tanpa dinding, tanpa lantai, dan tanpa atap, dan keyakinan ibarat penghuni yang senantiasa merawatkeutuhannya”
Ada sebuah pepatah : “Umur setahun jagung, Darah setampukpinang” – seorang bayi merengek minta disuapin, menagih air susu, wajar. Sudah menjadi satu kedisiplinan hukum Illahi yang tertata dengan baik apabila mudah bosan, jenuh, dan pesimis, apalagi dalam bidang menulis, sebuah huruf lahir dari perselingkuhan jari tangan yang dihalalkan oleh hati dan pikiran.
Ini blog ke-empat yang saya buat, masih bau kencur. Tepatnya satu tahun sejak reg, saya bermain-main di WordPress, hanya untuk sekedar menjaga keharmonisanhati dan pikiran. Menulis yang baik memang diperlukan “penguasaan”, pengelolaan bahasa, kejujuran, kebenaran isi tulisan, dan lain sebagainya. Jika membaca risalah seorang Rowi hadist yang masyhur dikalangan para sahabat, tentu saya tidak akan mampu seperti beliau, setiap satu hurufnya beliau melaksanakan wudlu, bayangkan saja, ribuan riwayat hadist sudah tertulis, bahkan dikaji sampai sekarang, dan saya yakin sebelum bumi ini dilipat, pun akan masih ada orang yang akan mempelajarinya. Semoga saya tetap konsisten untuk menulis
“Baik berjagung-jagung, sementara padi belum masak”
“Manusia kerap terjebak oleh ketidaksabaran ia terjerumus dalam kubangan lumpur waham (kesalahan pemikiran) tentang dirinya sendiri”
Catatan Hikam
Robiutssany -1425 H-
Saya tidak punya buku ataupun bacaan seperti yang telah direkomendasikan oleh teman-teman sesama blogger, jadi apabila tulisan saya minim tentang sastera mohon dimaklumi, sebenarnya saya sangat antusias sekali untuk mempelajarinya, saya ingin membeli sebuah buku seperti orang lain, mereview, menguraikan isi-isinya, namun keterbatasan dana selalu menjadi kendala. Jadi saya manfaatkan sebuah coretan-coretan beberapa tahun silam – di sebuah asrama Sallafy. “Al-hasil semua bentuk tulisannya, acak-acakan” hehehe.
Sudah Tanggal 6 di bulan ke-6, Juni 2020 M, saya ingat sebuah pasal ke-6 dari 234 Bab – Pasal. Sebuah judul tentang “Do’a dan Ijabah” – Ridho dengan Pilihan-Nya. Bagaimana bisa seorang manusia menghakimi Tuhannya, sedangkan Dia adalah hakim terbaik, Dia maha tahu apa yang akan terjadi pada seorang manusia, Dia mengerti apa yang kita inginkan, namun Dia lebih tahu apa yang terbaik untuk kita – tidak bisa ditawar.
Sekalipun kau merasa dekat dengan-Nya, kedekatan itu tidak akan mampu merobek tirai takdir yang telah tertulis di Lauhil Mahfudz (sebuah ketentuan nasib), karena sesungguhnya Dekat adalah Jarak. Untuk memahami kepada hal ini tentu diperlukan belajar, misal : seseorang telah berusaha ekstra menjalankan usaha (syariat) untuk meraih sesuatu yang dicita-citakannya tidak hanya sekedar menengadahkan tangannya sambil memusatkan kekhusyuan pikiran, menarik hasrat ke atas, niat agar sebuah doanya bisa didengar oleh-Nya, usahanya telah ia tempuh dengan maksimal, tapi usaha adalah “rencana” bukan sebuah penentuan hasil.
Seseorang ingin berjodoh dengan seorang perempuan atau lelaki yang diinginkan ; maka jawabannya adalah : “Sekalipun dirinya dan seluruh malaikat turut memanjatkan doa maka bila itu bukan haknya dan tidak tertulis di Lauhil Mahfudz pasti tidak akan terlaksana. Jodoh adalah sebuah isyarat akan objek yang telah disediakan, tetapi keinginan akan perempuan atau lelaki tertentu adalah Syahwat dan Wahamnya yang masih belum surut.
– I n t u i s i –
“Jika ingin menggenggam, maka lepaskanlah apa yang ada dalam genggaman”
Apakah kita pernah memperhatikan ukuran telapak tangan kita? Betapa kecil dan sangatlah terbatas, ia hanya akan mampu membawa apa yang mampu di genggam. Jangan seperti anak kecil yang membawa beberapa mainan, karena tidak ingin mainannya di pakai oleh temannya ; di tangan kanannya sebuah mobil-mobilan, di tangan kirinya sebuah robot-robotan, kemudian lengannya meraih mainan lainnya, akhirnya jatuh pula. Sifat kekanak-kanakan itu terkadang muncul dalam kehidupan orang dewasa – manusia inilah yang dinamakan tamak atau rakus. Sebenarnya Dia telah memberikan gambaran, jika kita ingin merengkuh semuanya, maka simpanlah barang-barang (dunia) itu dalam sebuah wadah ikatlah dengan sebuah tali (dienulhaq) lalu genggamlah talinya dengan erat, “dunia” tidak akan lari dari genggamanmu.
Kembalilah kepada titik nol (besar), dimana di dalamnya tidak terdapat angka-angka atau nilai yang lainnya, jadikan nol itu sebagai bejana yang kerap akan terisi sendiri dengan apa yang telah ditentukannya, karena ketentuan yang paling baik selalu datang dari-Nya, dan lebih baik dari apa yang diupayakan oleh kita. Teruslah meminta dan lepaskanlah apa yang kita minta, tidak ada keinginan yang tidak dikabulkan oleh-Nya