Siloka

Fixels

Penyair dari Nusa melenggang menyusuri lingkar alam, di seluruh negerinya kini dipenuhi kebisingan suara yang muncul dari langkah kaki dan sepatu orang-orang kota yang sedang melintasi pemukiman Sancakala.

Namun penyair bukanlah seorang yang lemah, ia luar biasa dengan berjuta keterampilan dan instrumentalnya ia mampu menggabungkan kata-kata menjadi sepasang petir yang menyambar pucuk-pucuk pohon, ia tak henti mencari seorang prajurit yang terkubur diantara dongeng orang-orang desa

Sekarang sudah mencapai malam, matahari tenggelam dengan perlahan seolah membuat langit cerah itu mengubahnya menjadi gelap, sang penyair memutuskan untuk menutup matanya di bawah pohon Argapura.

Nomina, Agustus 2020

Inspirasional

“Saripati kemurnian diri yang dihasilkan dari olahan pengalaman adalah dasar mengenali diri sendiri”

nomina
foto : dokpri | “Mirun Seuneu”

Bayi nan mungil itu terbaring dalam hati setiap manusia, menunggu dibangunkan oleh pemiliknya, terbang melepasi padang yang tiada berkesudahan. Padang yang dipenuhi ornamen kegilaan hidup, nuansa samar begitu kental mencampuri segala urusan. Terbang bersama pandang nyata, hinggap lagi di tengah-tengah rupa, warna yang pekat, aroma yang kuat meluapi segala sektoral. Terkadang menghasilkan bau busuk yang meracuni tubuhku dan berujung menyumbat pernafasan. Seharusnya mata ini mulai mengurusi perkara-perkara yang tidak pernah dilihat mata sebelumnya, tiada siapa diajak bercerita mengenai-Nya, tiada siapa untuk melukiskan-Nya. Tempat yang menjadi rumah kediaman bagi mereka yang meninggalkan diri mereka dan menemui-Nya. Warna-warna itu menaburi mata, layaknya polesan maskara di balik lancipnya bulu mata, kemudian meresap melalui lobang pori hingga menetap pada apapun yang dipandang.

Ada rindu yang tak berkesudahan, mengendap dalam lubuk hati yang paling dalam. Sejak pertama kubacakan beberapa sabda-Nya, turut serta menghancurkan jiwaku. Tidak mudah menemukan diri sendiri dalam keadaan pecah hingga berkeping-keping. Usia yang labil saat itu menunjukan ruas-ruas jalan yang begitu lebar, hingga ingin sekali kulalui, tanpa memikirkan satu arah pasti. Tujuan-tujuan murni menjadi hilang begitu saja tertutup candu yang bertahtakan “kesenangan”.

Boleh jadi, umur menunjukan kewarasan berpikir dan kedewasaan bersikap, mencari rejeki di jalan-jalan menemui irama dengan petikan jari, hingga syahdunya nada-nada major menyeretku menjadi minoritas di kehidupan yang hakiki. Beruntung sekali Rahman-Rahim-Nya kuterima dengan tegas dan penyerahan diri menunjukan inti dari mana aku hidup dan akan sampai di mana aku kembali. Tidak ada yang paling dekat kecuali mati dan jalan kematian terbentang luas setiap detiknya. Pekerjaan yang diurusi, bentuk kehidupan yang bersama setiap saat, materi dan kejayaan yang diraih, serta pangkat dan jabatan yang telah dinobatkan hanya bingkai kecil yang menghiasi keaslian wujud nyata. Masihkah aku membutuhkan cermin agar terlihat menawan di depan orang-orang, atau warna-warni pakaian yang membutakan keindahan-Nya? Tentu saja hal-hal seperti itu pada dasarnya akan terasingkan sendiri. Sadar ataupun tidak bahwa setiap nafas adalah wadah takdir-Nya.

Rintangan adalah titik yang perlu dihubungkan pada setiap fase, gelap dan berbahaya menjadi tempat yang ideal untuk seorang jawara, berbahagialah setiap kesusahan, bersukarialah pada setiap gesekan, karena berharganya sebuah perjalanan merupakan pengalaman yang tak akan pudar warnanya.

Tulisan lainnya Klik di sini

Nomina, Dzulhijjah 1441

Dan Bagaimana?

Bagaimana aku bisa menggambarkan keagungan-Nya, sedangkan yang ada dalam pikiran-pikiran manusia adalah hal-hal baru

Bagaimana aku memberitahukan kehadiran-Nya, sebab Ia datang tanpa berpindah dan pergi tanpa berbalik

Bagaimana aku mampu merangkum eksistensi-Nya, karena wujud-Nya tidak ditemui dengan kata ada dan tidak hilang oleh kata tiada

Rasakan!

Nomina, Rajab 1425 H