BAHASA SUNDA

Bitotama Khurukshetra Arjawinangun


Gambar : adu jago, tanding pencak silat

Sok aya kabiasaan di wilayah urang boh di saantèro nusantara, atawa sabahagian wilayah anu kaitung kuat nyekel kabudayaan, kaasup di wilayah tatar sunda, bahkan teu tanggung-tanggung ieu kagiatan teh geus digelarkeun dina mèdia-mèdia digital, dipintonkeun kunu disebut para ahli metafisik (paranormal), nu pasti maranèhanana geus kasohor kupangabisana, bahkan ieu kagiatan teh kacida dipikaresep ku sawarèhna manusa jaman kiwari. Sangkan èta kagiatan leuwih di pikaresep nepika sok makè èmbel-èmbel praktèk anu teu dimenangkeun ku syarèat agama. Pikeun ngayakeun hal samodèl kitu lain pasu’alan anu gampang, aya anu tapa brata (nyepèn) heula, aya anu puasa heula, jeung pagawèan anu sejena anu dipercaya bisa ngabuahkeun kana hasilna èta pakakas.

Lanjutkan membaca “Bitotama Khurukshetra Arjawinangun”
SEBERKAS KISAH

Selalu Ada Alasan Untuk Kembali

Dokumen pribadi

Pergi memang menyakitkan, jika bisa dihilangkan dari pikiran manusia, maka kata yang ingin aku musnahkan adalah “pergi“. Manusia tidak bisa pergi, dekat, jauh, sebentar bahkan lama sekalipun. Merupakan fitrah manusia apabila kepergian mengundang luka dan air mata, duka dan lara adalah persenyawan dari keduanya. Benci akan hal itu hanya akan memunculkan bibit luka yang lainnya, karena alam butuh keseimbangan, manusia harus memahami itu, dan aku harus bisa berdamai dengan keadaan.

Lanjutkan membaca “Selalu Ada Alasan Untuk Kembali”
IDEA

Fajar Terbit Tepat Waktu

Dokpri

Dari balik trali besi sang penganjur tampak duduk bersandar pada dinding tembok yang sudah beluwek warnanya, persis seperti peta ataupun pulau-pulau, ia terus memandangi tembok lusuh itu seakan mengingatkannya pada daratan-daratan yang pernah disinggahinya, mungkin kusamnya tembok dinding penjara itu disebabkan oleh rembesan air hujan yang sedikit masuk pada lubang dan retakan tembok tersebut, atau bahkan disebabkan oleh air seni para narapidana yang melampiaskan kekesalan dan keputusasaannya.

Lanjutkan membaca “Fajar Terbit Tepat Waktu”
PUISI

Membayar Lamunan


Pada suatu malam, aku tak melihat satupun rahasia dari kegelapan kecuali bintang yang berjalan lamban, seperti seorang perempuan yang duduk sambil menekuk senyumnya. Sehingga ketika malam itu menggelapkan kenyataan, aku adalah tamu, datang menuju cahaya bulan, warnanya keruh putih seperti bulu serigala

Aku meratapi duka lara serta payah di setiap kedip, aku menentang malam dengan kekerasan hati, aku memuji Tuhanku diantara malapetaka, lalu dukaku terbang dengan ringan melebihi angin. Selepas pagi, sinar matahari membungkuk, membangunkan masa mudaku menatap cermin di dinding, usia muda telah lewat, meluap sampai di leher dan uban yang tumbuh mengingatkanku dari mimpi-mimpi

Jaket tebal dengan uraian bulu lembut di leher, sorban melilit dan baju zirah bersiap melindungi kesepianku. Sifat jalang mata burung yang liar, Aku ingin duduk sebentar, diantara dua ujung sayap burung elang yang gugup menyambar merpati pada hari yang mendung. Ku bangun rumah di tanah kosong sunyi, senyap, gelap, hatiku terikat di keramaian, ku duduk seperti keledai hutan, tidak ada orang melewati, nihil suara kaki, air menyakitkan, rumput menjalar dari pori-pori bumi

Dan lagi, matahari membangun lamunan siang, terkunci nyanyian serangga hutan bersama pikiran yang datang dari ruas kayu seperti angin dan tornado

Kota Santri, 2021

Eh teman-teman, setelah selesai membabat habis rumput-rumput di pinggir kolam, rencananya akan ku tanami sayuran, cabai rawit, kuncai, kacang panjang, nanti aku kabari dadaaahhhh hehehe

PUISI

Buah Hati

Ia adalah buah yang jatuh dari pohon langit, tumbuh sekali seumur hidup, bersemayam dalam taman pikiran,

Seandainya sungai tak memeluk dengan arusnya, ia akan jatuh ke tanah itu, menjadi banjir bandang

Terkubur jasadnya, lalu tumbuh rimbun memayungi pelancong dari sengat matahari siang ini.

Nomina | Buku Puisi Catatan Amal Sholeh | 2004