Selamat Jalan Bulan

Setelah tampak cahaya malam, sepasang kata berdiri di pintu Maghrib, memutus dirimu dari takut, gelisah, dan kebimbangan, asap wujudnya terkepul di dada.

Akan tetapi cahaya siangnya masih terjaga disemai perbincangan, sampai pasukan-pasukan malam menyerang dengan genderang.

Mereka di antara pasukan Ruh dan Nuh, karena mereka berada di antara “Kasyaf” dan “Sitr”

Sedangkan malam mengandung kita, dibalut dingin yang mencekam, menunggu subuh, basuhlah lidah, akal, dan jiwa dengan derai takbir.

Makna hakikat datang dengan perbendaharaan kata-kata, datang kepada hati yang remuk, luluh lantak, pecah berkeping, berbeda-beda kedisiplinannya.

Ketika kehilangan jejak, tidak sedikitpun membekas, seperti kilatan di lengkung mega malam nan kelabu, di dinding langit yang sesak dengan gemintang, lenyap dalam keabadian

Andai pula ia meninggalkan bekas, tentang kepergian waktunya, yang ada tinggal dukanya, jika kebat cahayanya sangatlah asing, kita akan berada bersama luapannya, hidup dalam sorotan berkatnya.

Dan, pada hamparan kedua kalinya, semua memenuhi harap, menunggu cahaya itu kembali, dalam damai, dalam keseragaman

Kita akan berpisah setahun, sekembalinya diriku, biarkan aku memelukmu, “Salam-Mu” memelukku, memeluk mereka, memeluk keterasingan

Nomina, 1 Syawal 1441 H

Kuburan Jiwa

Kelopak mataku mulai sempit, menyempitkan gemilang nur yang tertutup kufur, telingaku hilang ngiangnya, dikubur gaung suara nafsu, lenyap dijejal gempita dunia 

Hatiku tak lagi luas padaku, pada nurani, pada ketundukan ambisi, lupa fitrah illahi, sulit membuka warna-warna nyata dalam fana, terpedaya oleh tipu daya

Aku ingin si Raqib senantiasa menjaga getar hatiku, sedangkan yang lainnya menjaga ucapan dan pandanganku, jangan biarkan lalu lalang pada selayang pandang mataku, buramkan cahaya-Mu, Engkau benar melihatku

Jika tubuhku adalah gelas yang dibasahi air karena cemerlang beningnya, ingin ku tanami bibit mutiara dari bumi emas, lalu tumbuh kembali intan permata dalam dekap jiwa

Akan tetapi jasadku adalah bejana yang disentuh oleh bibir setan, hilang gemilangnya, keruh warnanya, ijinkan aku merobek, membelah, memecah hingga tak tersisa tetes dalam kepingnya.

(Nomina, 29 Ramadhan 1441 H)

Kafilah

“Memilih kelompok atau kafilah yang bisa mendekatkan dinding hatimu kepada-Nya”

Pict : Nomina Indonesia

Saat itu seorang Sabil sedang melintasi kota Maya, ia menyusuri jejak para pemanol. Matahari dengan pongah menganga di atas kepalanya, panasnya melobangi setiap jengkal tanah yang dipijak oleh kaki mereka, sampailah ia di puncak dahaga, laju air ludahnya terhenti di tengah-tengah kerongkongan, namun ia tetap saja menarik kakinya yang sudah tidak mampu ia pijakan, tibalah di satu rumah, ia melihat sekelompok kafilah sedang asik berkumpul sambil menikmati gelas piala.

Seseorang berkata padanya :

“Kemarilah, bergabunglah dengan kami sekalian, mari bersama-sama menikmati cita dalam gelas piala, kamu telah melewati perjalanan yang sangat jauh, pakaianmu yang robek, tubuhmu yang lusuh, serta keringat yang bercucuran dari tubuhmu menggambarkan itu” Seseorang berusaha meraihnya.

“Terima kasih kuucapkan karena sudi menerima aku yang sedang menapaki perjalanan” Dengan senang hati Sabil menerima tawarannya, lantas ia duduk di samping mereka.

Hari berlalu Sabil berbaur dengan para kafilah tesebut, setiap harinya ia lewatkan bersama mereka, sambil berharap hikmah datang setiap harinya, baginya lebih indah menyerap setetes hikmah dari pada memikul sekarung ilmu. Dawai suara alat musik mengalun, gaung pujian dalam lantunan suara musik dan nyanyian setiap harinya selalu terdengar, sehingga mereka larut dalam buaian kenikmatan, jika datang malam hari mereka senantiasa menyalakan api unggun dan tungku untuk di kelilingi oleh mereka, hingga tibalah suatu masa.

“Nikmatilah malam ini, kita akan bersuka cita dalam kehangatan, mari kita panjatkan hati kita, karena suara musik ini akan membuat kita sampai di puncak ketenangan” Sang kepala kafilah berkata di depan mereka.

“Ya, suara musik dan nyanyian ini akan sampai, namun sampailah kita pada Saqar” Sabil berkata pada dirinya sendiri.

Ia kembali duduk di samping mereka, dengan tak sengaja pakaian yang ia kenakan menyentuh pakaian mereka, kemudian Sabil berusaha menariknya.

“Kenapa kamu menarik pakaiannya, pakaianku tidak kotor? Salah satu orang bertanya kepada Sabil

“Tidak tuan, justru pakaianku yang kotor, aku takut mengotori pakaian milik tuan, maka aku menariknya” Sabil berusaha untuk menjawab pertanyaannya. Kemudian Sabil membuka bajunya, lalu membakarnya dalam tungku, berkobarlah api tersebut, Sabil bertelanjang dada dan tetap duduk di samping mereka.

“Tuan yang terhormat, sekarang aku tidak mengenakan baju dan tubuhku yang kurus, kering dan kotor terlihat, aku tidak pantas untuk bersama-sama kalian, aku takut mengotori pakaian tuan-tuan, aku hendak pamit, untuk melanjutkan perjalanan” Sabil beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa kamu pergi, hai Bani Adam?” Kepala kafilah bertanya kepada Sabil.

“Aku tak memakai pakaian, ijinkan aku untuk mencari sehelai kain agar aku bisa menutupi tubuhku yang kotor” Sabil kemudian berjalan beberapa langkah.

“Tidakkah kau tau, di sini tersedia pakaian yang bagus dan layak kau pakai” Seseorang mencoba menahannya.

“Saya tahu tuan, tapi pakaian milik tuan terlalu bagus untuk ku kenakan, permisi saya pamit untuk melanjutkan perjalanan” Sabil kemudian melanjutkan langkahnya.

THE END

(Nomina, Mei 2020)

Bablas

Apabila malam telah terbenam berserta cahaya bintang nan suka cita, dalam gelap menyeimbangkan dingin, menuju fajar

Aku ditelan lupa ketika mata tak lagi terjaga, cahayanya redup oleh kantuk, gemerlap mimpi di ambang pagi

Bara menyengat di ufuk kelabu, terbang secepat-cepatnya, masuklah sekumpulan nyawa, dan ruh menuju dada

(Nomina, méi 2020)

Catatan Seorang Murid

Aku adalah seorang murid, selalu mengatakan itu. Berulang-ulang.

Kepada angin

Kepada hujan

Kepada semesta.

Kefakiran adalah hari raya bagiku, tidak ada kegembiran dalam catatanku, kelak lidahku kelu untuk mengucapkannya

Di hadapan guru

Di hadapan hakim

Di hadapan Tuhan

Malam adalah kita ; aku dan buku, di kedalaman sunyi, berhentilah suara, berhentilah angin

(Nomina, Ciluncat, 1424 H)

War From Home

Hidup adalah Perang

Nomina

Akan kuceritakan kisah perjalanan saat aku menyambangi pesisir Rembang beberapa tahun yang lalu, begini kisahnya ;

Nominasite.home.blog. Cuaca panas menjelang sore itu terasa mencekik leherku (kering, dahaga) debu-debu beterbangan, bercampur-baur dengan asap yang keluar dari corong knalpot kendaraan ; tebal melumuri tubuh, terasa sangat akrab sekali saat keduanya bersua dengan butir keringat yang mengalir deras dari sekujur tubuhku, inilah yang menjadi satu-satunya alasan hasratku menyetujuinya untuk duduk di pinggir jalan ; membelakangi aktivitas pengguna jalan.

Aku duduk di bawah rambu lalu lintas yang berdiri kokoh di atas benteng pembatas antara tebing dan jalan raya, kulihat daun-daun kecoklatan, tak jelas warnanya ; terbalut serbuk halus dari tanah dan pasir jalanan, mesra menyetubuhi setiap helainya. Mataku tak goyah menatap laut biru, riak nan bergelombang, tak bisa kusimpulkan, apakah itu bagian dari ujung ; tepi atau di seberang sana masih tersisa bentangan yang luas, betapa sangat terbatas jarak pandang kedua mata ini, hanya mampu menafsirkan garis horizontal menjadi pemisah antara langit dan muka bumi yang biru, di atas puncak ombak bermekaran perahu layar para nelayan yang hendak pulang ke daratan, serupa kuncup bunga-bunga yang kegirangan di saat musim semi, terlihat jelas pagar betis menunggu sang nelayan menimbang ikan dari jaring, mereka turut serta membantu menarik perahu-perahu ke daratan. Saat perahu nelayan itu tiba di tepi pantai, aku melihat keindahan yang sangat luar biasa, pasir-pasir tersibak oleh tubuh perahu, disusul buih yang berlarian, deru suara ombak menggelegar bersahutan pada karang di pesisir pantai Rembang.

“Kenapa air laut terus bergerak, akan lebih indah apabila air yang ada di lautan itu tenang?” Seseorang bertanya dengan polosnya. Tak lantas kujawab, aku ingat pepatah seorang nabi “Ilmu (pengetahuan) itu ibarat dua kotak cahaya yang ada dalam kepalamu, kotak pertama untuk kau bagikan kepada orang lain, kotak kedua untuk kau simpan dalam hati (ilmu bathin, hikmah)

Aku masih terpukau dengan debur ombak di laut lepas, begitulah kuasa Tuhan mengatur alam dengan kekuatan maha dahsyatnya. Matahari mulai jatuh di garis laut ; pertanda sore hari akan segera berpamitan pada siang yang telanjang di bawah sinarnya, cahayanya memamerkan senja yang begitu eksotis, andai saja aku seorang pelukis, akan kulukiskan rona merah di langit itu, aku hanya bisa menangkapnya dalam kepala, kuseka guyuran keringat yang melata di keningku dengan kemeja yang kupakai selama beberapa hari, ini adalah pertama kalinya aku melewati jalur Pantura.

“Apakah kamu pernah memperhatikan kolam aquarium, kenapa dalam kolam aquarium selalu disertakan air mancur?” Aku balik bertanya padanya, dan ia pun mulai sedikit paham apa yang aku sampaikan.

Sama halnya dengan air yang ada di lautan, Tuhan menciptakan makhluk bernama angin agar menjadi media sirkulasi bagi kehidupan. Jika air laut itu diam, maka para penghuni laut ; ikan dan semua spesies, tidak akan bertahan lama, dengan adanya gelombang tersebut akan memberikan dampak yang sangat positif. Sama seperti manusia, ketika manusia dipaksa diam dirumah saja, maka akan mengalami depresi yang sangat hebat. Demikian pula pelajaran dari seorang nelayan, ia tetap bergerak meski ombak dan badai menerjang, mereka tidak pernah sedikitpun untuk mundur dari medan pertempuran. Mulailah kita memerangi rasa takut terhadap sesuatu yang bathin (tidak nampak) ia akan ada jika kita meyakini keberadaannya, jika kita tidak meyakini keberadaannya, maka ia pun tidak akan pernah ada. Hidup itu adalah perang, memerangi rasa malas, rasa bosan, rasa takut dan sebagainya. Jika kita tidak memulainya dari sekarang, mau sampai kapan pandemi ini berhenti?

Demikian sebuah tulisan singkat ini semoga menjadi sebuah hikmah, dan pelajaran, aku selalu menegaskan hikmah itu akan datang ketika seorang manusia tidak tunduk kepada akalnya, tapi tunduk kepada hatinya!

(Nomina, 18 Mei 2020)

Anasir

“Sebuah matlamat manusia (makhluk) kerdil nan angkuh yang akan terbaring dalam pusara kubur”

Nomina

“Aku menjelajahi bahtera damai dalam sampan, berharap di tepi sampai”- Agenda 707-

Apabila malam jatuh kepadaku, tidak ada hal lain yang kulakukan adalah aku mencoba menaiki sebuah sampan kecil dengan dua dayung di tanganku, kuarungi samudera gelap, terang, sunyi, dan suara. Gelap adalah muasal hilangnya makna pada sepasang mata dan hati (Ainal Bashirot – Bashiratul Ain) sebelum cahaya tercipta di hari itu ; hari yang telah ditentukan wujudnya, kucoba menutup mata. Terang cahaya adalah benderang dalam pelupuk, menerangi gelap semesta yang terhalang oleh kedip, kemudian aku membuka mata. Sunyi adalah pemberhentian gerak semesta dalam jirim (batang tubuh) alam dan makhluk yang senantiasa, berubah pola, berubah arah, berubah pemikiran (Tagoyur-berubah) mutlak, semua itu bukti terpeliharanya sebuah takdir. Suara adalah wujud dalam bentuk lain dari gerak dzat tanpa rupa, tanpa warna, perjalanan Wujud Akli dan Wujud Hisi. Did Lughawi dan Naqid Istilahi, dua perkara yang mustahil berada dalam satu titik, ada gelap, tidak akan ada terang, ada sunyi, pasti ada suara, adanya gerak, maka tidak akan ada pula diam.

Empat ribu tahun setelah terciptanya cahaya itu kemudian Ia ciptakan pula sebentuk alam (Arasy) yang meliputi alam lainnya, dikatakanlah dalam sepenggal ayat “Kun Fayakun” terbentuklah penciptaan kedua, tidak ada keharusan manusia selain memikirkan sesuatu yang harusnya dipikirkan pertama kali adalah mengetahui awal diri kita sebagai manusia – Man arofa nafsahu fakod arofa robbahu- “barang siapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya” namun, tebalnya dinding dunia (fana) membutakan semua.

Aku menguliti setiap jengkal tubuh, setiap tetes darah, setiap hembus nafas, setiap detak jantung, setiapnya adalah tanah, air, api dan udara yang terbentuk dalam Maqom Jama’. Proses panjang dan perjalanan yang lekang saat aku berada dalam rahim sang ibu, rahim yang diciptakan sebagai alam tempat tinggalku dahulu kala. Kerasnya dunia ini serupa debur ombak di atas puncak samudera, badai menggoyangkan sampan, topan mengubah haluan perjalanan, bertahan atau tenggelam bagaimana kokohnya kedua tangan menggenggam kedua dayung itu, sampai atau tidak ke tepian tergantung seberapa benar kompas hidup kita.

(Nomina, 24 Ramadhan 1441 H)